Ali Makruf Berharap Taman Budaya Jadi Art Center di Jatim Dalam Pembukaan Pameran Lukisan “Colour Streaks”

Surabaya – Taman Budaya Jawa Timur menyelenggarakan Pameran Lukisan/Painting Exhibition yang diikuti oleh Perupa Wanita Jawa Timur (PERWAJATI).

Pameran dilaksanakan pada 1-8 Agustus 2023, mulai dari jam 10.00 – 22.00 wib. Acara dibuka oleh Kepala Taman Budaya jawa Timur Ali Ma’ruf, S.Sos., M.M, bertindak selaku kurator adalah Agus Koecink.

Dalam sambutan pembukaannya Ali Ma’ruf mengatakan, Taman Budaya sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur diharapakan mampu menjadi Art Centre Jawa Timur, terutama sebagai fasilitator aktifitas berkesenian.

Baik untuk berolah seni pameran maupun pertunjukan, dengan senantiasa secara konsisten menyelenggarakan acara yang berbasis kesenian untuk menjadi wadah karya-karya terbaik dari seniman Jawa Timur yang ideal dan representatif.

Galeri Prabangkara sebagai lokasi pameran adalah bentuk akulturasi rasa yang disengaja dipertemukan dari dalam makna sang perupa dengan rasa penikmat agar terjadi dialog yang membangununtuk saling melengkapi dan menjunjung tinggi keilmuandalam mengapresiasi seni lukisan ini.

Pameran lukisan ini merupakan karya-karya terbaik dari para seniman perupa wanita Jawa Timur, dengan mengambil judul “COLOUR STREAKS” dapat diartikan bahwa dengan pameran ini semoga dapat mewarnai perkembangan seni rupa di Jawa Timur dan dapat menginspirasi generasi muda yang menyukai seni lukis atau seni rupa guna mendorong seni rupa Jatim untuk lebih maju dan menggeliat.

Ali Ma’ruf berharap masyarakat  mengapresiasi dan partisipasi dalam setiap sajian karya yang diselenggarakan Taman budaya.

Sementara itu Agus Koecink selaku kurator memberikan statement bahwa Taman Budaya di tahun 2023 ini di program yang kedua di bidang seni rupa mencoba memamerkan karya-karya Perupa Perempuan Jawa Timur mulai dari Kediri, Sidoarjo, Batu, Probolinggo, Tuban, Surabaya, Mojokerto dan lainnya.

Agus Koecink selaku kurator melihat saat ini di Jatim selangkah lebih maju dimana sebelumnya lebih banyak dominasi laki-laki sebagai perupa, kini perupa wanita pun juga punya peran.

“Di tahun-tahun 2000-an ada komunitas perupa perempua “Bra” yang mencoba memunculkan feminisme, ada juga Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI), Perempuan Pengkaji Seni dll. Maka sekarang perkembangan seni rupa yang berhubungan dengan perempuan semakin bisa kita lihat, dimana mereka mau menunjukkan eksistensinya dibidang seni”, terang Agus.

Menariknya dari mereka semua berasala dari latar belakang yang berbeda-beda, ada yang berlatar belakang guru, ada yang memang perupa dll. Ini menunjukkan tetap adanya survival dari para pelukis perempuan ini bahwa mereka mau menunjukkan aktualisasi dirinya lewat karya seni lukis.

Tahun ini Taman Budaya memfasilitasi dan memamerkan karya-karya mereka itu untuk diapresiasi oleh masyarakat.

Para peserta pelukis wanita yang ikut pameran diantaranya: Hesti Setyowati (Sidoarjo)), Aliet (Surabaya), Dewi Ulan Tina (Surabaya), Nesti Setyowati (Sidoarjo), Nike Lestari (Tuban), Indah Sari (Probolinggo), Anienx (Surabaya), Anny Djon (Sidoarjo).

Jeng Upik (Surabaya), Devina Anggraeni (Surabaya), Kurnia Yunita T. (Surabaya), Ary Indrastuti (Surabaya), Irdina Larasanti (Surabaya), Paulina Soesri H. (Sidoarjo),

Noery Dyaz (Sidoarjo), Ellys NS (Sidoarjo), Ucik Retnoasih (Kediri, Maria Nofita (Sidoarjo), Lian M. Margareta (Kediri) Sherlita AR (Malang(, Nova Christiana (Surabaya).  (ian)
                                                                                                             
                                                                                          
                                                                                                           

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *