Seni Rupa : FR Endang Waliyati

Tertambat Pada Lukis Kain Perca, Dikoleksi Orang Perancis

Banyak seni rupa yang dihasilkan dari lukisan berbahan baku cat. Tapi lukisan dengan bahan baku kain perca ini yang tidak semua orang mampu melakukannya. Namun FR Endang Waliyati, perupa yang telah malang melintang di dunia seni rupa ini mampu membuat lukisan dari kain perca yang tak ubahnya seperti lukisan pada umumnya yang terbuat dari bahan baku cat dengan media kanvas.

Ending memulai dengan mengumpulkan bahan merujuk pada obyek apa yang hendak dibuatnya. Seperti gambar pemanddangan, untuk mewujudkan lukisan gambar pemandangan seperti yang diinginkan ia harus mengumpulkan bahan yang sudah dirancangnya seperti warna apa saja yang akan dibutuhkan. Dan tidak mengunakan warna tambahan, murni dari kain yang ia dapatkan.

Mula-mula kain-kain yang telah ia dapatkan diurai satu persatu hingga menyerupai butiran-butiran lembut selembut kapas. Masing-masing warnanya ia pisah-pisahkan untuk memudahkan proses pembuatan. Dan tak jarang untuk menghasilkan satu lukisan hingga memakan waktu berbulan bulan bergantung ketrsediaan bahan. Namun kalau bahan sudah siap, paling lama satu bulan lukisan sudah kelar untuk ukuran 40×60 cm.

Bukan tanpa alasan atau asal-asalan ia memilih seni rupa dari bahan dasar kain ini. ibu dua anak ini sengaja memilih seni rupa berbahan dasar kain perca ini karena tidak banyak yang bisa melakukannya dan yang pasti pesainnya juga berlum ada.

“ Saya sudah malang melintang di dunia seni rupa umumnya. Namun akhirya saya menemukan keasyikan tersendiri dari seni rupa ini (bahan dasar kain). Disamping membantu orang juga membantu pemerintah menanggulangi sampah khususnya,” terang Endang saat ditemui di rumahnya di Perum Sidokare Indah G/25 Sidoarjo.

Kini terhitung sudah puluhan lebih karya yang telah ditelorkan. Bahkan tidak jarang karyanya melanglang buana hingga ke luar negeri seperti Perancis dan Belanda. Ia pun sangat terkesan ketika melihat sambutan peminat lukisannya yang juga memberinya bahan baku untuk melukis. Yakni bahan baku berupa uang kertas yang sudah tidak dipakai lagi.

“ Saya dikasih dari BI Surabaya ketika pameran di museum BI Surabaya. Uang yang sudah dicincang itu dikasikan saya untuk membuat lukisan. Ini yang sangat venomenal bagi saya, karena itu pantas kalau lukisan saya dihargai mahal melihat pembuatannya yang memerlukan waktu dan proses yang panjang” tutur Endang. (her)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *