Wayang Topeng Jatiduwur, Warisan Budaya dari Kabupaten Jombang Yang Eksis Menerjang Jaman

Jombang – Program Bincang Budaya Bersama Laboratorium Pelatihan dan Pengembangan Kesenian (B3 LPPK) mengangkat upaya pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur, salah satu kesenian tradisional khas Jawa Timur yang tumbuh dan berkembang di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang.

Dalam diskusi tersebut, Sulastri Widiyanti dan Isma Hakim Rahmat, S.TP., S.H., hadir sebagai narasumber yang membahas perjalanan, nilai budaya, tantangan regenerasi, serta berbagai upaya inovatif untuk menjaga keberlangsungan Wayang Topeng Jatiduwur di tengah perkembangan zaman.

Sekilas mengenai topeng, secara historis kesenian wayang topeng atau pertunjukan topeng sudah pernah tercatat dalam Kakawin Negarakertagama (1365), bahwa jaman kerajaan Majapahit, dramatari topeng tersebut dikenal dengan nama “raket”, istilah yang masih ban yak digunakan sampai dengan abad XVII, sementara dalam Kidung Sunda istilah “patapelan” muncul kembali untuk menyebut pertunjukan-pertunjukan drama tari topeng (Sal M. Murgiyanto dan A.M. Munardi B.A, 1980:11).

Satu di antaranya adalah yang berada di wilayah Kab. Jombang, terdapat kesenian yang bernama Wayang Topeng Jatiduwur. Memiliki keterkaitan dengan warisan kebudayaan era Majapahit. Secara sajian pertunjukan, kesenian ini menampilkan tari topeng dengan cerita Panji, antara lain tokoh Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

Cerita yang dibawakan tidak semata-mata menjadi hiburan, tetapi juga mengandung nilai pendidikan dan moral, seperti kesabaran, kejujuran, keberanian, serta jiwa ksatria.

Selaku pelestari dari kesenian Wayang Topeng, Sulastri Widiyanti dan Isma Hakim Rahmat, S.TP., S.H., menyoroti perjalanan panjang Wayang Topeng Jatiduwur yang pernah mengalami masa vakum selama kurang lebih 40 tahun. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan serius bagi keberlangsungan kesenian karena regenerasi pelaku seni belum berjalan secara terstruktur. Kebangkitan kembali kesenian tersebut kemudian didukung melalui berbagai upaya masyarakat dan pelaku seni di Desa Jatiduwur.

Langkah penting dalam proses regenerasi adalah berdirinya Sanggar Purwo Budoyo pada tahun 2017. Sanggar ini menjadi ruang pembelajaran dan pembinaan bagi generasi muda untuk mengenal serta mempelajari Wayang Topeng Jatiduwur.

Anak-anak tidak hanya diajarkan teknik menari, tetapi juga diperkenalkan dengan sejarah, karakter tokoh, cerita, dan nilai-nilai yang terkandung dalam pertunjukan. Upaya tersebut menjadi bagian penting untuk memastikan adanya generasi penerus yang mampu melanjutkan keberadaan kesenian tradisional tersebut.

Keberadaan Wayang Topeng Jatiduwur semakin memiliki posisi penting setelah pada tahun 2018 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Status tersebut menjadi penguatan bahwa kesenian yang tumbuh di Desa Jatiduwur memiliki nilai budaya yang perlu dilindungi, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Namun demikian, pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah perubahan pola hiburan masyarakat akibat perkembangan teknologi digital. Generasi muda saat ini semakin dekat dengan gawai, media sosial, dan berbagai bentuk hiburan digital. Kondisi tersebut menuntut pelaku seni untuk tidak hanya mempertahankan bentuk tradisi, tetapi juga mencari cara baru agar kesenian tetap menarik dan mudah diterima oleh generasi muda.

Wayang Topeng Jatiduwur tidak cukup hanya dipertahankan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi harus terus dihidupkan, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan. Upaya Sanggar Purwo Budoyo bersama masyarakat Desa Jatiduwur menjadi salah satu contoh bagaimana kesenian tradisional dapat tetap bertahan dengan membuka ruang bagi generasi muda sekaligus beradaptasi terhadap perkembangan zaman. (her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *