Sendra Tari Trunojoyo, Pecah Sepi Taman Candra Wilwatikta

Masa penjajahaan adalah masa-masa sulit bagi rakyat Indonesia. Kedaan itu juga terjadi di daerah Pandalungan atau tapal kuda di Jawa Timur. Kala itu daerah ini dikuasai oleh VOC.

Masyarkat Pandalungan kala itu tertindas oleh penjajahan VOC Belanda. Mereka yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani hidupnya sengsara dibawah tekanan VOC.

Trunojoyo, seorang bangsawan asal Madura beserta dua temannya yakni Karaeng Galesung dan Untung Suropati tidak tinggal diam melihat kesengsaraan yang dialami oleh masyarakat Pandalungan. Sampai saatnya tiba dan VOC sudah dapat diketahui kekuatannya, akhirnya Trunojoyo beserta bala tentaranya dan dibantu dua temannya tadi melakukan aksi menyerang VOC, dan alhasil Trunojoyo pun berhasil mengalahkan tentara VOC yang selama ini menindas rakyat Pandalungan.

Cuplikan cerita diatas telah dipertunjukkan dalam sendra tari Kolosal “Trunojoyo” yang di Sutradarai oleh Abing Santoso dari STKW (Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta) Surabaya. Pagelaran yang dilaksanakan di UPT. Pengembangan Ekonomi Kreatif Taman Candra Wilwatikta Pandaan Pasuruan pertengahan April lalu itu tak pelak memecah sepi di Taman Candra Wilwatikta. Ratusan pengunjung tumpah ruah di ampitheater yang mampu menampung 15.000 penonton itu menyaksikan sendra tari tersebut. Abing menuturkan, ada pesan yang patut di ketahui dalam setiap pagelaran tari.

Dan dalam kesempatan ini menurut Abing ada pesan yang hendak ingin disampaikan yakni mengajak generasi muda atau masyarakat untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan dan berempati kepada perjuangan mereka, menghargai perjungan mereka, dengan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal atau kegiatan yang bermanfaat untuk bangsa dan sesama.

Sementara itu Arif Rofik Kepala UPT Pemberdayaan Lembga Seni Wilwatikta yang menungi Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Surabaya dalam sambutannya mengatakan, untuk menghasilkan karya tari yang baik diperlukan sumber daya manusia yang baik dan mumpuni dibidangnya. STKW sebagai sekolah tinggi dibidang kesenian mampu mewujudkan tenaga-tenga trampil dan profesional dibidang itu, karena itu untuk membuat suatu pertunjukan atau pagelaran seni budaya patutlah kalau mengandeng Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, sebut Rofik.

Seperti diketahui Taman Candra Wilwatikta merupakan unit pelaksana teknis dibawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur yang berlokasi di Pandaan Pasuruan. Sebagai UPT pengembangan ekonomi kreatif taman Candra Wilwatikta memiliki visi menegakkan dan mengembangkan kepribadian budaya nasional dan keparwisataan dengan semangat gotong royong.

Drs. Handoyo, MPd Kepala UPT mengtakan, ekonomi kreatif memiliki 16 sub sektor. Salah satunya adalah seni pertunjukan dimana seni pertunjukan dapat dijadikan sebagai pemikat atau daya tarik wisata. “UPT Taman Candra Wilwatikta adalah sebagai wadah pengembangan seni budaya, termasuk didalamnya seni pertunjukan yang juga masuk dalam sub sektor ekonomi kretif yang dapat menarik wisatawan”, terang Handoyo.

Tentang Taman Candra Wilwatikta

Taman Candra Wilwatikta merupakan sebuaah taman dan tempat peristirahatan berlatar beakang gunung Penanggungan memiliki luas 12,3 hektar. Konon tempat ini dulunya adalah merupakan tempat dimana para tentara Majapahit melakukan gladi perang dan mengasah ilmu kanuragan. Wilwatikta sendiri konon diambil dari nama ibu kota kerajaan Majapahit yang bermakna sinar Majapahit.

Berlokasi di Jalan Raya Tretes Pandaan dibangun pada 1963 oleh Kolonel M Wijono Gubernur Jatim saat itu bersama-sama dengan Mayor Ibnu Said dan Ibu Dar Mortir (Ra. Soedarijah Soerodikusumo) yang dikenal juga sebagai pelaku peperangan 10 Nopember di Surabaya.

Tempat ini juga dulunya digunakan sebagai pertemuan antar pejabat pusat dan daerah sekaligus sebagai pusat pelestrian kegiatan seni budaya Jawa Timur. Beberapa negarawan atau petinggi negara tercatat pernah singgah di Taman Candra Wilwatikta. Diantaranya adalah Megawati Sukarno, Gus Dur, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ratu Sirikit dari Thailand.

Fasilitas-fasilits yang ada di Taman Candra juga cukup memadai. Seperti kamar-kamar peristirahatan, panggung pertunjukan, lapangan olahraga, gedung pertemuan, dll. Tempat ini resmi dikelola oleh pemerintah provinsi Jawa Timur melalui pergub No. 28 tahun 2013 yang sebelumnya dikelola oleh Yayasan hingga mengalami pasang surut dan akhirnya dikelola oleh provinsi Jawa Timur. (ian)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *