Perhatian Lebih Untuk Telaga Buret?

Sebulan Dikunjungi 800-an orang

Jawa Timur dikenal memiliki banyak potensi sumber daya alam. Dari mulai perikanan, pertanian, migas, juga potensi pariwisata. Tak salah bila potensi-potensi itu kini terus dikembangkan oleh kabupaten/kota guna mendongkrak perekonomian. Seperti Kabupaten Banyuwangi misalnya yang hingga kini terus berupaya mempopulerkan sektor wisatanya ke berbagai daerah bahkan mancanegra.   Tidak hanya Banyuwangi saja yang memiliki potensi bidang pariwisata.

Karsi Nero Sutamrin

Tulungagung misalnya, juga memiliki banyak potensi wisata baik yang sudah dikenal atau belum terkenal.  Seperti Telaga Buret misalnya. Telaga ini memiliki sejarah yang cukup panjang dan lekat dengan mistis. Seperti dituturkan oleh Karsi Nero Sutamrin Ketua Pokdarwis (kelompok sadar wisata) Telaga Buret. Nero sapaan akrab Karsi Nero Sutamrin  mengatakan bahwa Telaga Buret asal muasalnya berasal dari Mbah Jigangjoyo. Menurut cerita Mbah Jigangjoyo adalah seorang pelarian dari kerajaan Majapahit yang kala itu sedang terjadi peperangan dan akhirnya terdamparlah sekelompok orang penunggang kuda yang dipimpin oleh Mbah Jigangjoyo atau pangeran Jigangjoyo ini. IMG-20171017-WA0014“Pangeran Jigangjoyo ini membawa seorang anak yang didapatnya ditengah peperangan hingga akhirnya diajak sampai ke Telaga Buret ini. Hingga akhirnya anak ini merasa lapar dan Mbah Jigangjoyo berusaha mencarikan makanan dengan mengais satu tempat hingga muncullah air yang sampai sekarang tidak pernah berhenti bahkan dimusim kemarau sekalipun dan hingga kini air tersebut mengaliri ke empat desa sampai sekarang”, tutur laki-laki yang disapa Nero ini.   Saat itu, masih menurut Nero, Mbah Jigangjoyo berpesan kepada warga agar menjaga dan memanfaatkan sumber air tersebut bagi siapapun dan mengalirkannya kemanapun agar dapat bermanfaat bagi banyak orang hingga anak cucu. Dan walhasil  air tersebut hingga kini dapat bermanfaat bagi  empat desa. Yakni Desa Sawo, Desa Gedangan, Desa Ngentrong dan Desa Gamping.   IMG-20171017-WA0013“Panjang-panjangkaan, lebar-lebarkan, ulur-uluren sumber mata air ini agar dapat dinikmati masyarakat banyak dan anak cucu. Karena itu hingga kini di Tulungagung ada tradisi ulur-ulur”, terang Nero menceritakan asal muasal Telaga Buret. Telaga Buret sendiri berada di Desa Sawo Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung sekitar 9 kilo meter ke arah selatan dari Kota Tulungagung. Obyek wisata ini termasuk wisata ekologi. Para wisatawan disini biasa melakukan penelitian tentang habitat yang ada di area ini seperti ikan, tanaman, air, dll.

Juga tidak sedikit yang melakukan outbond atau bahkan hanya sekedar mencari suasana teduh dan sejuknya dibawah pepohonan yang rindang. Menurut warga, air yang berwarna hijau yang berada di tengah telaga menunjukkan kedalaman telaga itu sendiri sedangkan dipingir pingirnya airnya berwarna jernih.  Menurut Nero di tempat ini juga tersedia sarana rekreasi traking bagi siswa atau umum, camping ground, dan flying fox.  

Bahkan beberapa orang juga masih mempercayai daya magis yang ada di tempat ini. Setidaknya itu dilakukan tatkala setiap ada orang yang punya hajat penting dia mesti tak melewatkan tempat ini sebagai jujugan lelakunya. “Seperti ada yang mau maju di pilkada gitu ya, mereka pasti kesini baik itu orang Tulungagung sendiri atau orang luar Tulungagung. Ndak tau apa yang dilakukan disini”, ungkap Nero. Dan memang sempat diberitakan bahwa tempat ini juga pernah digunakan sebagai acara melasti atau hari raya umat hindu.   Telaga Buret tergolong unik.

Bahkan saat musim hujan dari dalam air bisa muncul beberapa bambu besar (pring ori) yang tidak diketahui darimana asalnya. Juga saat diuji coba dimasukkan beberapa kayu besar dan memang ternyata masuk tenggelam namun ndak tau kemana larinya. Anehnya, saat banjir juga tidak kembali muncul ke permukaan kayu-kayu yang telah dimasukkan tersebut. Untuk mengukur kedalaman telaga sendiri menurut Nero hingga kini belum ada pihak yang berhasil melakukannya. 

169 Jenis Tumbuhan         

Wisata Telaga Buret merupakan cerita yang unik dan memiliki kekhasan tersendiri. Disini telah ada beberapa species hewan dan tanaman yang dulunya banyak namun saat ini telah punah. Seperti elang, harimau, kijang, gagak, badak, dll. Dan mengenai tumbuhan atau tanaman hingga ada 169 species tumbuhan hingga kini. Seperti pohon kepuh, lengkeng, bungabangkai, kemiri, tanaman Trembelek, dll. Namun untuk hewan hingga saat ini yang terdapat hanya kijang dan kera-kera. “Bulus juga ada tapi jarang muncul”, terang Nero. Untunglah beberapa orang termasuk Nero melalukan tindakan pemeliharaan dan mengkondisikan agar keadaan Telaga Buret tetap terjaga dan kini memiliki status KPS (kawasan perlindungan setempat) yang didapat dari perhutani dan memiliki kekuatan hukum sama seperti kawasan hutan lindung. 

20160905_163351
Kijang, salah satu ssatwa yang ada di Telaga Buret / Ft : adakitanews.com

“Kini perhutanipun ndak bisa cawe-cawe dan luasan kita pun meningkat. Yang dulunya hanya 1,9 hektar kini menjadi 22 hektar.   Namun sayangnya kawasan ini masih menyimpan berbagai masalah yang hingga kini belum teratasi. Seperti sarana kebersihan dan tempat ibadah. “Dulu, dikawasan ini ada musholla yang terbuat dari ilalang. Namun rusak dirusak oleh sekumpulan kera-kera yang ada disini”. Pihaknya berharap agar pemerintah setempat khususnya, bisa mewujudkan sarana ibadah ini. Ini menurut Nero sangatlah penting. Yang sering terjadi di tempat ini adalah pengunjunng sering kesulitan menemukan musholla tatkala hendak melakukan peribadatan hingga akhirnya pergi atau keluar.   “Itu sangat kita butuhkan sekali. Lha wong sering pengunjung itu sedang enak-enaknya menikmati suasana, trus keluar atau pergi karena tidak ada tempat sholat disini”, terang Nero menyayangkan kurangnya fasilitas yang ada.

Begitu juga toilet. Nero mengatakan untuk sarana MCK yang satu ini memang ada di tempat ini tapi kondisinya kurang layak. Ia pun meminta pihak pemerintah agar sudi memperhatikan hal yang demikian ini dikarenakan Telaga Buret sudah menjadi jujugan bagi banyak orang. Seperti para siswa, guru, dan lain sebagainya. “Bahkan dalam satu bulan pengunjung bisa mencapai 600 hingga 800-an orang.

“Alhamdulillah kami memiliki daftar pengunjung yang kesini. Bahkan barusan ada kunjungan para guru dan siswa dua elf kunjungan dari Kecamatan Sendang”, ungkap Nero melalui sambungan telepon.   Istimewanya tempat ini, masih sangat apa adanya dan tradisional. Disini juga tidak ada retribusi khusus yang dikenakan pada pengunjung. Tarif parkirpun sekedarnya tidak dipatok harga. Dan untunglah biasanya para pengunjung pun tau dengan memberikan beberapa tip kepada juru kunci yang ada yang memiliki dua juru kunci.  

Wahana

Sempat muncul beberapa pemikiran yang juga menjadi keluhan wisatawan adalah agar dibuatkan satu wahana agar tempat ini terasa komplit saat wisatawan berkunjung. Namun ini masih menjadi keinginan yang terpendam menginggat hingga saat ini belum ada gelagat atau sinyal dari pihak manapun yang ingin “meminang” tempat ini untuk dikembangkan ke arah tersebut. Pemerintah setempat melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata telah melakukan pembangunan di beberapa kebutuhan. Seperti pada pos jaga dan gazebo-gazebo yang ada. Dan dari pengamatan dilapangan memang fasilitas yang ada memang dirasa sangat kurang.   Seperti tempat sampah misalnya yang ada sudah saatnya mengalami peremajaan atau diperbaiki.

Beberapa tong sampah yang ada terlihat bolong sehingga sampah yang dimasukkan jatuh ke rerumputan hijau yang  nampak subur. Banganya, ditempat ini juga disediakan perpustakaan bagi pengunjung atau anak-anak usia sekolah. Juga foto-foto berbagai macam hewan yang pernah ada di telaga ini. Suasana yang teduh dan rindang membawa ketenangan tersendiri bagi pengunjung. Kini potret potensi sudah tersedia tinggal bagaimanakah kita memanfaatkannya untuk sebanyak banyak kemaslahatan ummat. Selamat berfikir demi kemajuan dan kesejahteraan bersama. (lukman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *