Kain Tradisional Merupakan Identitas Sosial Pemakainya

* Dari Pameran Pesona Kain Tradisional Nusantara 2015

Budaya bangsa Indonesia sangatlah beragam. Mulai dari kain tradisional daerah hingga adat istiadatnya. Baru-baru ini dipamerkan berbagai kain tradisional daerah yang dipusatkan di Museum Adityawarman Padang Sumatra Barat dengan tajuk “Ragam Hias Pesona Kain Tradisional Nusantara 2015”, yang diikuti oleh 34 museum se-Indonesia.

Dalam sambutan tertulisnya, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno yang diwakili oleh Kadisbudpar Sumatera Barat mengatakan, pihaknya menyambut baik acara ini dan diharapkan akan dapat membawa manfaat positif bagi masyarakat, meningkatkan kerjasama dan membuka cakrawala bagu bagi pengembangan permuseuman di tanah air.  Lebih-lebih untuk menuju museum yang berstandard dan berkualitas. Dan masyarakat memperoleh bukti-bukti peninggalan sejarah masing-masing daerah.

Dalam kaitan ini museum Mpu Tantular ikut hadir untuk memeriahkan dan memberikan informasi kepada masyarakat terutama masyarakat Padang mengenai kain tradisional Jawa Timur dengan memamerkan koleksi seperti kain tenun tradisional dan batik yang berasal dari Gresik, Tuban dan Lamongan.

Menurut Kepala UPT Museum Mpu Tantular Drs. Edi Iriyanto, MM mengatakan, kesemua kain tradisional tersebut sangat penting diketahui oleh masyarakat karena memiliki fasafah sendiri-sendiri dan pentingnya pemahaman budaya bangsa sebagai jati diri bangsa. ” Harapannya adalah agar masyarakat terutama Padang dapat mengetahui berbagai jenis kain tradusional masing-masing propinsi, karena dari masing-masing kain itu memiliki falsafah yang sangat dalam. Dalam kaitan ini museum Mpu Tantular menampilkan kain Batik dan tenun,” ungkap Edi.

Seperti kain sarung Boket dari Gresik yang dibuat dengan bahan-bahan berkualitas seperti benang katun india, tidak memiliki tumpal (kepala sarung) dan tidak memiliki sambungan. Teknik pembuatan motifnya pun dengan cara mengikat benang pakan sesuai dengan jumlah warna pada motif.

Juga ada kain tradisional Lamongan yang berupa Sarung Rambat Kawung. Sarung ini juga dibuat dari bahan katun india ditenun dengan alat teknik bukan mesin (ATBM) melainkan dengan teknik ikat yakni dengan mengikat benang pakan dalam membuat motif hiasnya. Bagian kepala sarung bermotif geometris dan sulur. Sarung rambat kawung ini biasa dipakai oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari baik saat santai ataupun resmi.

Dalam berbagai kesempatan sebelumnya Edi melanjutkan, pemahaman budaya tersebut sangat menentukan kemajuan suatu bagsa. Karena budaya merupakan watak dari suatu bangsa, bila budaya sudah “diserang” oleh bangsa lain maka bagsa itu akan kehilangan jati diri dan mudah dilumpuhkan. ” Ada yang bilang kalau menyerang suatu bangsa, seranglah lewat budayanya, maka Anda akan memperoleh kemenangan,” lanjut Edi.

Karena itu ia berpesan terutama pada kaum muda, untuk tetap setia kepada budaya bangsa lebih-lebih di era globalisasi yang serba canggih ini. ” Kaum muda adalah penerus bangsa, oleh sebab itu mereka harus dijaga dan dibentengi jiwa nasionalismenya agar tidak kebablasan tergerus jaman yang semakin modern ini,” lanjut Edi.

Untuk diketahui, museum Mpu Tantular adalah museum propinsi Jawa Timur yang memiliki tidak kurang dari 15 ribu koleksi yang terbagi dalam beberapa zona. Diantaranya adalah zona jaman pra sejarah/jaman purba, zona jaman kolonial, zona peninggalan hindu-budha, zona jaman islam, dll.

Sementara itu, Kepala Museum Adityawarman Padang Noviyanty A, SH, MM mengatakan, kain tradisional memiliki fungsi sosial yang menentukan identitas serta status si pemakainya. (her)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *