Eksotisme Air Terjun Coban Pelangi

foto : jejakpiknik.com

Air terjun ini menyimpan keindahan yang istimewa. Jika matahari bersinar terang sebaris pelangi akan tergurat disisinya.Coban Pelangi merupakan wisata air terjun yang terletak di bawah kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru tersebut menyimpan keindahan tersendiri. Air terjun ini terletak di Desa Gubuk Klakah. Sebuah desa yang masih termasuk kawasan desa adat Tengger. Desa ini menjadi tapal batas Desa adat Tengger di wilayah Malang karena posisinya yang paling luar diantara Desa adat lainnya, seperti Ngadas misalnya yang terletak beberapa kilometer diatasnya.

Sebagaimana desa adat Tengger lainnya, upacara adat Tengger pun masih terpelihara dengan baik disini. Meski dalam persoalan keyakinan, kini mayoritas penduduk Gubuk Klakah beragama Islam. Seperti misalnya upacara Kasada yang masih rajin diikuti oleh penduduk. Demikian pula dengan upacara Karo yang selalu terselenggara dengan rutin disini.

Suasana Coban Pelangi saat itu pun jauh berbeda dengan kini. Saat ini kawasan itu telah menjadi salah satu objek wisata di Kabupaten Malang. Sebuah pintu masuk yang ditunggu beberapa petugas jaga juga telah ada disana. Namun itu bukan berarti untuk menuju Coban Pelangi menjadi mudah. Karena Coban Pelangi masih jauh dibawah loket itu. Mungkin karena itu pula pengunjung Coban Pelangi tak sebanyak Coban Rondo yang relatif mudah diakses pengunjung.

Sebenarnya dari arah kota Malang, lokasi Coban ini tidak begitu susah diakses. Bagi yang membawa kendaraan pribadi. Akses jalan satu-satunya untuk sampai di Coban Pelangi via Malang adalah melewati Tumpang terus ke selatan menuju Poncokusumo. Pada pertigaan sebelum Poncokusumo kemudian ke arah Timur menuju Gubuk Klakah.

Sedangkan bagi yang tidak membawa kendaraan pribadi ada angkutan umum jenis lyn yang melintasi kawasan ini meskipun waktunya terbatas. Tidak sampai sore hari sudah berhenti beroperasi. Karena trayek lyn ini juga terbatas. Hanya menyusuri Poncokusumo – Gubuk Klakah. Harganya pun relatif terjangkau. Rp 3000 jika dari Poncokusumo dan Rp 4000 jika dari Gubuk Klakah.

Alasan pembedaan tariff ini pun ada benarnya juga. Menurut seorang warga Gubuk Klakah. Sopir lyn menerapkan tariff yang berbeda karena menurutnya konsumsi bahan bakar kendaraan lebih besar saat digunakan untuk menanjak daripada saat menurun. Kenyataannya, jalan menuju Gubuk Klakah memang terdiri dari tanjakan yang menantang. Bahkan ada beberapa trek tanjakan yang memaksa pengemudi untuk melajukan kendaraan pada posisi persneling satu terus menerus.

Selain lyn, angkutan lain yang tersedia adalah beberapa kendaraan berpenggerak empat roda, umumnya dari jenis Toyota Hardtop. Mobil ini sedianya adalah kendaraan yang dikhususkan untuk transportasi para pendaki Semeru. Biasanya para pendaki Gunung Semeru menyewa mobil ini secara kolektif untuk mengantarkan mereka menuju Ranu Pane. Namun karena Coban Pelangi berada pada satu jalur dengan akses menuju Ranu Pane maka pemilik kendaraan biasanya tak berkeberatan jika ada penumpang yang turun di Coban Pelangi.

Sesampainya di pintu masuk kawasan Coban Pelangi bukan berarti tujuan sudah dekat. Justru sebenarnya disinilah tantangan sesungguhnya bagi setiap pengunjung Coban Pelangi. Dari pintu masuk, area Coban Pelangi ini masih berjarak paling tidak satu kilometer lagi.

Letak Coban Pelangi berada di dasar sebuah lembah yang diapit oleh dua bukit. Jadi untuk menuju kesana praktis tidak ada jalan lain selain menuruni bukit. Sarana jalannya pun seperti tak terawat. Sarana jalan itu mempunyai lebar bervariasi antara satu hingga dua meter. Pada beberapa bagian, jalan tersebut telah berbalut beton. Namun sebagian besar masih berupa jalan tanah. Namun untungnya rupa tanah disini terdiri dari semacam campuran batuan kapur dan pasir. Jadi meski tertimpa hujan tidak terlalu licin.

Tantangan menuju Coban bukan hanya terbatas pada kondisi sarana jalan. Kontur jalan juga menjadi masalah tersendiri. Dibutuhkan fisik dan stamina yang prima untuk bisa mencapai Coban ini. Karena kemiringan bukit, tempat sarana jalan itu menempel, di beberapa titik mencapai 45 derajad. Untuk turun menyusurinya hingga mencapai lokasi dibutuhkan waktu sekitar 30 hingga 45 menit. Sedangkan saat naik dibutuhkan waktu lebih lama lagi, bisa mencapai satu jam lebih.

Di dasar lembah itu mengalir sebuah sungai yang dipenuhi bebatuan dan berarus kencang. Sungai itu mengalir hingga ke Desa Gubuk Klakah dan Desa-Desa lain dibawahnya. Jika sudah sampai di sungai itu, berarti lokasi Coban tak terlampau jauh lagi. Untuk menyeberangi sungai, sebuah jembatan sederhana dari bambu telah disediakan untuk memudahkan pengunjung.

Sungai itu sebenarnya menjadi satu aliran dengan Coban Pelangi. Air yang tumpah dari Coban itu diteruskan oleh sungai yang kemudian membawanya hingga ke hilir dan menjadi sumber air utama, tidak hanya bagi warga Gubuk Klakah, namun juga bagi desa-desa lainnya di Malang.

Tak terlalu jauh dari jembatan itu, sekitar 10 menit berjalan kaki, suasana air terjun telah mulai terasa. Gema suara air yang bersumber dari tumbukan air dengan batu dibawahnya telah terdengar hingga beberapa puluh meter menjelang Coban Pelangi. Suara air tersebut seolah menjadi backsound yang mengiringi setiap pengunjung Coban Pelangi selama berada di lokasi.

Suara air tersebut menjadi salah satu pemanis suasana di sekitar Coban Pelangi. Kekaguman akan Coban akan bertambah saat telah berada di bawah air terjun itu. Coban Pelangi mempunyai tinggi sekitar 25 meter. Coban tersebut terbentuk dari sungai kecil yang mengalir melewati patahan bukit sehingga airnya tumpah ke bawah.

Tumpahan air tak hanya membuat air terjun, namun juga menerbangkan partikel-partikel air disekitarnya. Jika matahari bersinar terang, tempias air terjun yang tersapu sinar matahari itu akan menjelma menjadi pelangi. Karena seringnya fenomena alam tersebut terjadi di situ maka air terjun itu kemudian dinamakan Coban Pelangi. Dani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *