Tetap Tenang, Hadi Firmansyah Juarai Bromo Marathon 2018

Hadi Firmansyah juarai marathon kelas 42 km. ft : jawa pos.com

Lomba lari Bromo Marathon telah usai digelar. Masing-masing peserta telah pulang menuju kampung halamannya masing-masing. Namun ada sedikit kenagan yang tersisa dari kegiatan tahunan yang dihelat oleh pemerintah Kabupaten Pasuruan ini. Yaknitekad perjuangan yang dilakukan tanpa henti meski kendala menghadang. Setidaknya itu dialami oleh Hadi Firmansyah pelari dari Singosari Malang.

Ia tetap tenang ketika kakinya mengalami kram dua kali saat mengikuti lomba dengan jarak 42 km ini hingga akhirnya dapat mencapai finis dengan urutan pertama alias juara 1 dengan jarak 42 km. Dan tak sedikit pula yang melakukan selfie ditengah perjalanan saat lari karena indahnya pemandangan alam yang melingkupi.

Seperti diketahui, Bromo Marathon merupakan event internasional yang diselenggarakan oleh Kabupaten Pasuruan melalui Dinas Paraiwisata Kabupaten Pasuruan. Pada masa-masa sebelumnya Lismu Dayat Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pariwisata Kab. Pasuruan sempat mengatakan bahwa pihaknya berharap kegiatan ini tak sekedar lari melinkan ada hiburan atau acara pendamping lain yang bakal menyertainya. Namun meski belum terwujud beberapa peserta sudah merasa terhibur dengan indahnya pemandangan alam yang menakjubkan di kanan dan kiri selama perjalanan.

Untuk tahun ini kegiatan Bromo Marathon ini digelar tanggal 23 September 2018 yang tepatnya jatuh pada hari Minggu diikuti oleh 1650 peserta dari 31 negara. “Mereka diantaranya berasal dari negara-negara terangga, eropa, dan australia”, terang Dedi Kurniawan Ketua Panitia. Sedangan mengenai kategori, terbagi dalam tiga kategori. Yakni 10 kilo meter, 21 kilo meter dan 42 kilo meter.

Rupanya tak hanya sekdar lari dan hiburan yang dicita-citakan pun terwujud. Di tahun ini peserta juga dihibur dengan pertunjukan “Spektakuler Fire Work Show” di pelataran Bromo, sambung Dedi.

Sebenarnya sejak Tahun 2013 kegiatan ini telah digelar. Saat itu lebih dari 1.600 pelari dari 40 negara dan 5.000 penonton menyerbu ke desa pegunungan Tosari dan Ngadiwono yang kecil dan terpencil untuk ambil bagian dalam lomba tahunan Bromo Marathon pertama. Event Bromo Marathon sendiri dalam sejarahnya pernah tercatat sebagai kegiatan amal yang sebagian hasilnya disumbangkan untuk lembaga pendidikan di daerah lokal dengan mendukung fasilitas perpustakaan dan pengembangan sekolah. Misinya adalah untuk memajukan literasi, pemikiran kritis, dan kreatifitas melalui membaca.

Pasuruan Bromo Marathon lebih dari sekedar balapan, ini adalah upaya total masyarakat. Bromo Marathon bekerja bersama dengan anggota masyarakat untuk memberikan acara yang bertujuan untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan ekonomi di seluruh banyak masyarakat berpenghasilan rendah, sumber daya rendah yang mendiami wilayah tersebut. Selanjutnya, Pasuruan Bromo Marathon tidak hanya memberikan peserta sajian keindahan alam dan menantang tetapi juga membenamkan mereka (peserta) dalam kehidupan desa yang sesungguhnya dan budaya unik dari Tengger dalam upaya untuk mempromosikan interaksi lintas budaya dan perdamaian melalui kegiatan ini. (her/bbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *