Sulitnya Mencari Tenaga Kerja di Bisnis Marmer

Sudah lama pebisnis batu marmer dan onix menjerit kesulitan mencari tenaga kerja. Padahal mereka sempat eksis dan jaya di tahun-tahun sebelumnya. Para pekerja lebih memilik bekerja di sektor formal seperti pabrik daripada bekerja di rumahan atau pusat kerajinan. Hal ini diakui Supriono salah seorang pelaku usaha pengrajin batu Marmer di Tulungagung beberapa bulan lalu saat menerima rombongan para jurnalis dari Surabaya yang mengikuti lomba jurnalistik bidang pariwisata.

 

Supriono mengaku, tantangan bagi para pekerja bidang kerajinan ini sangat berat. Selain menguras fisik juga pesanan yang tidak stabil. “Kendala paling berat bagi industri ini adalah susahnya mencari tenaga kerja. Ini lantaran para pemuda lebih suka bekerja di pabrik dengan kondisi bersih pakaian rapi dan gajinya pasti. Karyawan saya saja banyak yang tua-tua 35 tahun ke atas ya ada yang SMA tapi ndak seberapa”, terang Supriono dihadapaan para wartawan saat melakukan kunjungan ke Tulungagung beberapa waktu lalu.

 

Karena itu yang paling bisa dia lakukan saat ini adalah bertahan dengan tenaga yang ada dengan tetap optimis memandang masa depan. Diakui Supriono sebenarnya pasar Marmer atau Onix ini sangat bagus dan bahkan hingga mencapai luar negeri. Namun sayang akhir-akhhir ini melemah dan berkurang. “Sekarang kirim dua kontiner aja udah mending lho mas. Tapi itu bukan punya saya semua. Itu kumpulan dari punya orang lain juga”, terang Supriono sambil menunjukkan barang yang paling laku adalah seperti wastavel yang dikirim ke luar negeri seperti Amerika, Polandia, Taiwan.

 

Supriono menambahkan, tenaga kerja yang ada kini lebih tertarik untuk bekerja di pabrik daripada di industri kecil atau rumah tangga. Pasalnya pekerjaan yang ada hanya menunggu order datang dan tidak kontinyu. “Saya kan hanya mengerjakan pesanan saja. Lain dari itu saya ndak berani berspekulasi”, terang Supriono.

 

Soal bahan baku menurut Supriono pihaknya tidak kesulitan. Di daerahnya (Tulungagung) banyak didapatkan bahan baku untuk industri kecil miloiknya dan teman-teman lain sesamanya. Namun yang menjadi masalah selain tenaga kerja adalah pemasaran. Pemesaran menurut Supriono, selama ini hanya dilakukan dengan getok tular. Pihaknya juga tidak menampik telah memanfaatkan kecangihan teknologi informasi seperti website, dll. Namun yang didapat belum seberapa dari teknologi informasi tersebut. “Ini hanya sebagai pelengkap saja menurut saya, ya ada sih yang kesini, tapi cuma satu atau dua orang saja”, akunya.

 

Kini pihaknya berharap kepada pemerintah khususnya pemerintah kabupaten/kota setempat untuk bisa membangkitkan bisnis ini seperti masa-masa kejayaanya dahulu, meski tidak seratus persen “jaya di udara”.  “Saya berharap ya bisa bangkitlah seperti dulu lagi (masa-masa ramainya bisnis marmer) meski tidak sepenuhnya. Minimal ada pergerakan menuju ke sana”, terangnya. (her)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *