Perlu Kajian Komprehensif Untuk Membentuk Desa Wisata Baru

Hasil FGD Disbudpar Jatim

Pariwisata terus berbenah. Ditengah ketidakpastian wabah corona yang melanda, pariwisata terus berupaya bangun dari keterpurukan yang mendera.

Setidaknya itulah yang baru-baru ini digagas dalam FGD (focus group discussion) yang dimotori oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur melalui Bidang Destinasi.

FGD merembuk soal bagaimana desa-desa wisata yang ada atau bakal ada sejalan dengan maksud dan tujuan dimana adanya desa wisata dapat memperkaya daerah tujuan wisata yang dimiliki Jawa Timur dan bukan malah kontra produktif. Selain itu juga dapat berjalan secara berkesinambungan dan berlanjut dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.

Hal ini ditegaskan oleh Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Dra. Susiati, MM. Susiati menuturkan, berdasarkan arahan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata desa wisata pada dasarnya dibentuk atau didirikan untuk mencapai kesejahtaraan bersama dengan mempertimbangkan nilai-nilai keindahan atau estetika sebagai tujuan wisata.

Karena itu pembentukan atau pendiriannya seyogyanya mempertimbangkan keindahan dan bukan kontra produktif dengan maksud dan tujuan tersebut. “Saran dari bapak Kepala Dinas kemarin yaitu, jangan malah berlomba-lomba mendirikan desa wisata yang tidak terarah. Itu malah justru menambah masalah baru? Dan apalagi malah kontra produktif dengan maksud dan tujuannya”, tutur Susi.

Kajian-kajian study kasus juga penting untuk dilakukan dalam rangka memberikan masukan atau input terhadap adanya pembentukan desa wisata baru. Karena itu perlunya study banding dengan daerah lain yang sudah memiliki track record dan keberhasilan dalam membangun desa wisatanya.

Seperti diketahui FGD tersebut bertujuan mencari kesinambungan terhadap destinasi wisata yang ada agar dapat berjalan berlangsung lama, sehingga akhirnya manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Dalam diskusi tersebut hadir para pakar untuk membedah masalah atau memberikan solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi. Diantaranya adalah Dian Rahmawati, ST, MT dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Dr. Dra. Dian Saptarini, M.Sc. Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang membidangi Biologi/Keanekaragaman Hayati.

Wahyu Setyawan, ST, MT Institut Teknologi Sepuluh Nopember bidang Arsitektur, dan Prof. Luchman Hakim dari Universitas Brawijaya bidang Sosial/Pemberdayaan Masyarakat.

Seperti diketahui, dalam diskusi tersebut diketahui maksud dan tujuan dari adanya desa wisata adalah memberikan jejaring pariwisata yang lebih luas dan menambah kesejahteraan masyarakat.

Akhirnya dapat disimpulkan dalam diskusi tersebut diantaranya adalah desa wisata merupakan bagian yang harus diintegrasikan dalam perencanaan kawasan pariwisata, khususnya berbasis masyarakat.

Kedua, persistensi dalam community entrepreneurship adalah inti dari keberlanjutan desa wisata, dibutuhkan stimulan maupun pembinaan hingga kemandirian. Dan yang ketiga, adalah aspek supply dan demand perlu dijaga keseimbangannya agar desa wisata tidak memasuki fase stagnan atau terhenti. (her)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *