Pencari Berkah di Goa Gong : Misinem Rela Tempuh Perjalanan Tiga Kilo Meter

“Tempat wisata ini adalah berkah bagi kami. Kami bisa memperoleh tambahan penghasilan tiap hari disela kegiatan sebagai petani”

Sejak pukul tujuh pagi Misinem (45) sudah mulai bersiap berangkat menuju Goa Gong.  Maklum, Misinem adalah seorang penjaja senter untuk pengunjung yang hendak masuk di Goa Gong. Bahkan Goa Gong adalah tempat mencari nafkah kedua bagi Misinem setelah musim tanam padi usai. Misinem berangkat dari rumah sekitar pukul 07.00 menuju tempat yang jaraknya 3 kilo meter dari rumahnya itu.

Ditempat ini dia tidak sendiri. Ia bersama 28 teman lainnya menunggu rizki dari pengunjung goa Gong yang menyewa senternya. Namun karena saking banyaknya penjaja senter serupa, Misinem harus rela antri menunggu giliran senternya disewa. “Jumlah kami ada dua puluh delapan orang, karena itu harus rela antri satu persatu untuk mendapatkan sewanya”, katanya.

Meski biaya menyewakan senter itu tak cukup mahal, tapi ini adalah penolong ketika tidak ada yang bisa digali lagi sumber keuangan rumah tangga. Dengan tarif 5000 rupiah per senternya, Misinem bisa mendapatkan 25 ribu rupiah hingga 50 ribu rupiah jika musim liburan telah tiba. “Hasilnya ya ndak tentu. Kadang sehari hanya 25 ribu kadang juga bisa 50 ribu kalau musim liburan tiba”, terangnya sembari menawarkan senter didepan pintu gua.

 

Tidak Menambah Anggota

IMG_0797Ada kesepakatan antar penjaja senter di Goa Gong ini. Kesepakatan itu adalah mereka menutup atau tidak akan menambah lagi anggota yang masuk dalam paguyuban penjaja senter disini. Hal itu terpaksa dilakukan karena jumlah mereka sudah cukup banyak. Walau kadang di hari-hari biasa (selain Sabtu-Minggu) banyak diantara mereka yang tidak masuk alias tak menjajakan senter disini. Namun ketika musim liburan tiba, mereka berebut menawarkan senternya pada para wisatawan. “Memang sesuai giliran, tapi kalau tidak ditawarkan kan lama lakunya”, terang Misinem yang diamini teman “seperjuangannya”.

Sejak menjajakan senter tahun 1995 Misinem merasa tempat wisata ini adalah ladang baginya dan teman-teman untuk mencari nafkah. Karena itu pihaknya berharap pemerintah setempat memberi perhatian serius terhadap tempat wisata ini. Dan alhasil, tempat ini telah mengalami perubahan yang sangat mencolok. Seperti pembangunan sentra UKM yang menjajakan berbagai souvenir dan produk makanan. Dan tidak itu saja, pintu masuk goa pun dipindah dari yang dulunya di sentra UKM kini dialihkan ke sebelah kiri sentra UKM namun keluarnya melewati sentra UKM yang menjajakan berbagai produk khas Pacitan.

 

Sejarah Goa Gong

Goa gong pertama kalinya ditemukan oleh Mbah Noyo Semito bersama rekanannya yang bernama Mbah Joyo kurang lebih 60 tahun yang lalu, saat itu di dusun Pule, desa Bomo, Kec. Punung, Kab. Pacitan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan sehingga masyarakat di sana mengalami kesulitan untuk mendapatkan air untuk keperluan sehari-hari.

IMG_0784Dikarenakan adanya permasalahan seperti itu, maka kedua kakek tersebut berinisiatif untuk mencari sumber air yang masih tersisa, lalu mereka berdua menemukan goa yang dirasa tidak jauh dari rumah penduduk kurang lebih 400 meter, tanpa berfikir panjang mereka langsung memasuki Goa tersebut dengan menggunakan obor sebagai penerangan jalan untuk mencari sumber air. Kedua kakek tersebut menelusuri seluruh lorong-lorong Goa, dan akhirnya menemukan beberapa sendang kemudian mereka menggunakan sendang tersebut untuk mandi.

Goa Gong, terletak di Dusun Pule, Desa Bomo, Kec. Punung, Kab. Pacitan, 37 KM ke arah barat Kota Pacitan. Goa Gong dikelilingi oleh beberapa deretan gunung, yaitu Gunung Mayar, Gunung Gede, Gunung Karang Pulut dan Gunung Gugrah.

Goa ini memiliki susunan anak tangga yang menanjak dan bila diukur dengan jarak tempuh atau kedalaman goa sekitar 256 meter. Pemandangan di dalam sangat luar biasa indahnya.

Berjalan menembus lorong goa akan terlihat beberapa stalaktit dan stalagmit yang menyatu menjadi satu berdiri kokoh menyangga rongga goa. Goa Gong benar-benar sangat jauh dari kesan gelap dan mistis. Karena di dalam ruang Goa ini telah dilengkapi fasilitas penerangan berupa lampu berwarna-warni yang menambah keindahan bebatuan di dalam Goa. Untuk mengantisipasi panas di dalam Goa juga telah disediakan beberapa kipas angin berukuran besar supaya kondisi hawa dalam goa tidak terlalu pengap dan pengunjung terasa nyaman saat berkeliling menyusuri lorong-lorong Goa yang terindah di Asia Tenggara ini. Uniknya bebatuan di dalam Goa ini bila diketuk akan mengeluarkan bunyi semacam gong yang menggema di dalam lorong. Namun jangan kecil hati, meski berat perjalanan menapaki goa tapi Anda akan menemukan sensasi. Yakni bak melakukan mandi sauna dengan keringat bercucuran. Dan tak jarang para pengunjung hingga bajunya basah kuyup diguyur keringat saat tiba di pintu keluar. (lukman)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *