Pagelaran Wayang Potehi

Bentuk Kedekatan Museum Dengan Etnis Lain di Indonesia

Kepala UPT Museum Mpu Tantular Drs. Edi Iriyanto, MM saat   memberi sambutan
Kepala UPT Museum Mpu Tantular Drs. Edi Iriyanto, MM saat memberi sambutan

Indonesia memiliki beragam kekeyaan budaya dan etnis. Salah satunya adalah budaya cina atau etnis tionghoa. Museum sebagai wadah yang menampung seni budaya semua kebudayaan Indonesia baru-baru ini mengadakan pagelaran wayang potehi dimana wayang ini merupakan sebuah unsur budaya dari etnis tionghoa.

Wayang potehi merupakan salah satu jenis wayang yang berasal dari cina yang memiliki bentuk yang cukup mungil. Yang dimaksud wayang potehi adalah wayang yang terbuat dari kain yang besarnya seukuran kantong. Nama potehi berasal dari kata pou te dan hi. Pou (kain) te (kantong) dan hi (wayang).

Meskipun wayang ini nampak kecil-kecil seukuran kantong tapi tidak mengurangi daya tariknya karena juga sama sajikan oleh dalang seperti wayang kulit pada umumnya. Suara atau intonasi dalang juga sama seperti pada wayang umumnya. Hanya saja memainkannya mengunakan pangung kecil sebagai tempat dimana wayang potehi ini berpijak.

Dalam kesempatan tersebut ditampilkan lakon Sungokong atau yang lebuih dikenal dengan kera sakti. Seperti yang telah dikisahkan dalam serial televisi Sungokong adalah salah seorang prajurit yang pemberani, gigih dan setia menemani gurunya mengawal mencari kitab suci. Ia menemani gurunya bersama dengan Patkai atau siluman babi mencari kitab suci hingga ke India.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim Dr. H. Jarianto, MSi mengatakan agar selain dapat dinikmati di museum, kesenian ini juga dapat dinikmati dan diwujudkan dalam bentuk visual atau video sehingga dapat dinikmati masyarakat tidak hanya saat di museum saja tapi juga bisa disaksikan di tempat lain.

Di kesempatan yang sama Kepala Museum Mpu Tantular, Drs. Edi Iriyanto, MM mengatakan, makna atau pelajaran yang dapat diambil dari pagelaran ini adalah memberikan pelajaran kepada penonton atau generasi muda bahwa kegigihan dan semangat patriotisme yang kuat akan dapat menembus segala rintangan dan hambatan yang ada.

“Karena itu anak-anak muda selalu kami libatkan dalam menyaksikan pagelaran dimana seusia mereka adalah saat paling tepat untuk membentuk karakter. Semangat perjuangan, heroik dan patriotisme adalah makna yang dapat diambil dari pagelaran tadi,” kata Edi seusai acara yang juga dimeriahkan dengan atraksi barongsai ini.

Bertabur hadiah

Untuk menjadikan acara semakin gayeng dan edukatif panitia pelaksana memberikan hadiah-hadiah berupa dor prize bagi para siswa yang dapat menjawab pertanyaan dan yang berani mengajukan pertanyaan pada sang dalang Sukar Mudjiono. Tak ayal para siswa nampaknya juga antusias menyambut meski masih malu-malu dan harus mengandeng temannya untuk maju ke depan panggung yang sebelumnya didahului dengan pre test dan post test.

Dalam kesempatan itu juga dipamerkan beberapa koleksi yang berkaitan  dengan adat istiadat dan tata cara keagamaan masyarakat tionghoa dan koleksi-koleksi wayang potehi yang dimiliki museum. Masyakat pun begitu antusias menyaksikan koleksi-koleksi yang ada. Mereka tidak ingin melewatkan untuk menimba pengetahuan tentang berbagai suku atau etnis yang ada di Indonesia. (her)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *