Mpu Tantular Lakukan Jamasan Keris

Museum Mpu Tantular kembali melakukan jamasan koleksi pusaka yang ada. Koleksi-koleksi tersebut sudah waktunya untuk dilakukan jamasan pusaka umumnya keris. Jamasan dilakukan menurut Kepala UPT Museum Mpu Tantular Drs. Edi Iriyanto, MM adalah untuk menjaga dari oksidasi atau karat-karat yang menempel selama ini. Ini dilakukan untuk menjaga agar benda koleksi tersebut tetap awet.

 

Sedangkan benda-benda yang dilakukan jamasan itu adalah ratusan keris yang menjadi koleksi selama ini dan keris-keris yang terkumpul dari hasil lomba yang pernah diadakan di museum tersebut. “Untuk sementara yang kita lakukan jamasan hanya keris. Tidak pada benda-benda pusaka lainnya. Menginggat jumlah koleksinya yang sangat banyak dan berhubungan dengan biaya”, ungkap Edi.

 

Edi melanjutkan, mengapa Jamasan dilakukan saat ini? Menurutnya,bulan-bulan ini (dalam penanggalan Jawa disebut Suro) umumnya adalah bulan suci dimana “penghuni supranatural” yang ada dalam suatu benda sedang kosong atau pergi sejenak. Kesempatan itulah dimanfaatkan untuk membersihkan benda-benda pusaka.

 

Sementara itu menurut Jamil pelaku penjamasan dari Sumenep, mengatakan Jamasan pusaka secara fisik adalah untuk mempertahankan kondisi agar tetap awet tidak termakan usia atau keropos. “Jamasan pada dasarnya adalah merawat benda koleksi itu sendiri umumnya keris. Secara fisik untuk menjaga agar benda tetap awet, tidak karatan dan nantinya akan rusak bila karatan. Sedangkan arti supranaturalnya adalah untuk menjaga agar energi supranaturalnya tetap ada dan yang “mendiami” tetap kerasan”, terangnya.

 

Menurut beberapa literatur, Jamas sendiri berasal dari bahasa Jawa Kromo Inggil (tingkatan paling tinggi/halus) yang berarti mensucikan atau mencuci dan membersihkan atau memandikan. Sedangkan pusaka adalah berbagai benda yang dikeramatkan atau dipercayai mempunyai kekuatan tertentu. Seperti keris, tombak, gong, kereta pusaka, dll. Jadi Jamas pusaka bisa diartikan membersihkan atau mensucikan benda keramat yang memiliki kekuatan tertentu untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, ketentraman dan keberkahan.

 

Sejalan dengan itu dalam sambutannya Edi Irianto juga mengatakan hal yang sama. Yakni Jamasan sama dengan ruwatan benda-benda peninggalan bersejarah dan bertuah untuk menjaga kelestariannya sehingga diharakan akan membawa manfaat baik bagi pelaku (yang memiliki) atau orang-orang disekitarnya. “Intinya adalah kita lebih mendapatkan keberkahan dari apa yang kitalakukan saat ini (jamasan). Agar semua kita, saudara-saudara kita dan semua yang ada disini (museum) mendapatkan keberkahan”, terangnya. (her)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *