Menilik Sisi Kehidupan Masyarakat Tengger

* Rajin Gotong Royong, Agama Bukan Topik Untuk Diperdebatkan

Pesona Gunung Bromo mengundang decak kagum masyarakat dunia. Alamnya yang indah juga masyarakatnya yang ramah menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Beberapa bulan lalu mereka terpilih sebagai juara 1 dalam lomba gotong royong dan kerukunan masyarakat tingkat nasional tahun 2014.

Masyarakat Tengger nampaknya adalah pekerja tulen. Mereka lebih memilih bekerja ketimbang kongkow-kongkow di waktu siang bolong saat hari kerja. Ladang di daerah mereka hampir tidak ada  yang dibiarkan kosong menganggur terbengkalai dan tidak terawat. Hari-hari mereka diisi dengan kesibukan yang produktif.

Bahkan di desa ini tergolong banyak pekerjaan dari luar terutama tukan bangunan. Di itu karena desa ini sangat minim tukang bangunan atau pembuat rumah. Tidak jarang masyarakat mendatangkan dari luar kecamatan Sukapura untuk mengisi kekosongan tenaga tukan bangunan. Tidak itu saja, para pekerja di ladang pun juga banyak berdatangan dari luar kecamatan.

 

“ Sampean bisa lihat kalau pagi banyak mobil-mobil yang mengangkut orang dari luar untuk bekerja disini. Hampir tiap rumah memiliki landang atau kebun. Bahkan hewan piaraan seperti sapi dan kuda juga banyak yang punya,” ucap Supoyo SH MM salah seorang tokoh masyarakat yang kini melenggang di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Probolinggo.

 

Begitupun saat sedang menunggu masa panen, masyatakat Tengger lebih memilih berkecimpung di pariwisata baik sebagai tukang ojek ataupun apa adanya. “ Orang sini jarang yang mau nganggur apalagi sampai ngurusi dan usil dengan tetangga, ngumpi, dll mereka lebih memilih bekerja daripada ngurusi tetangga atau ngrumpi,” katanya. Bahkan meski siaran televisi sudah masuk di daerah ini, namun mereka tidak terpengaruh dengan adanya gaya hidup atau tingkah laku yang sering dipertontonkan oleh televisi. “ Mereka lebih takut kepada Tuhan, takut dikutuk,” terang Supoyo.

 

Menurut Supuyo, masyarkat di desa Ngadisari dan sekitarnya atau masyarakat Tengger umumnya merupakan masyarakat yang giat bekerja. Mereka tidak suka berpangku tangan menunggu datangnya hujan atau berkah tiba. Mereka juga termasuk masyarakat yang taat kepada pemukan agamanya atau para dukun pandita. Karena itu ketaatan masyarakat terhadap dukun pandita sangat kuat. Tak heran bila mereka akan melaksanakan suatu hajatan keluarga pun berkonsultasi terlebih dahulu kepada ketua adat atau sesepuh mereka.

 

“ Mereka biasa saling bantu, paling tidak, setidak punyapunyanya  orang sini bila punya hajat minimal persediaan untuk daginnya saja sekitar tiga kwintal, mereka banyak menyokong sesama saudara-saudaranya, guyub dan tidak ada iri hati satu sama lain” lanjut Supoyo.

 

Mengenai ketaannya kepada ketua adat atau dukung pandita sebagai salah satu penopang kerukunan pun tidak diragukan lagi. Mereka akan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh dukun pandita. Lebih-lebih bila hendak melaksanakan hajatan keluarga. Mereka tidak segan berkonsultasi kepada para pemangku adatnya ketika hendak melaksanakan hajatan.

 

Agama Bukan Topik Diperdebatkan

 

Masyarakat tengger tergolong tidak suka membicarakan persoalan yang tidak konstruktif. Setidaknya ini terbukti dari berbagai agama yang ada disini namun tetap bisa hidup berdampingan secara damai.  Disini ada tiga agama yang bermukim. Yakni Islam, Hindu dan Kristen. “Ketiga pemeluk agama ini saling menghormati dan mereka enggan menyinggung soal agama sebagai bahan pembicaraan yang diperdebatkan. Yang ada hanya satu baju. Yakni baju sebagai masyarakat Tengger,” ungkap Supoyo. “Karena itu tidak heran bila mereka rukun dan akrab saling bergotong royong dalam wadah orang Tengger,’tegas Supoyo.

 

Begitu juga dalam mendapatkan wisatawan, tidak ada yang saling rebutan apalagi berselisih dan bertengkar satu sama lain gara-gara rebutan wisatawan. Tidak seperti pada umumnya diperkotaan yang rebutan ojek. Mereka sangat toleran dan menghargai sesama pencari nafkah. Walhasil wisatawan pun jadi betah dan berdatangan. Ada banyak obyek wisata yang dapat dinikmati disamping pesona utama Gunung Bromo sebagai tujuan.

 

Masyarakat juga tergolong kreatif, mereka memanfaatkan lahan pekarangan mereka sebagai mata pencaharian yang dapat dijadikan pilihan bagi wisatawan untuk mendapatkan oleh-oleh. seperti kebun strawberry yang bisa didapatkan dengan mudah. Pengunjung tinggal terjun dan memilih sendiri buah strawberry yang ada diladang. Harganya pun cukup terjangkau bagi wisatawan. Hanya 50 ribu rupiah untuk satu kilo gramnya.

 

“ Maaf kebetulan saat ini tingga ini aja (sedikit) sisa hari raya lebaran kemarin, kemarin sempat membludak pembelinya,” terang pemilik kebun starawbery yang ada di desa Jetak ini. Lahan yang berada di sepanjang jalan masuk menuju kawasan wisata Bromo yang berdekatan dengan Hotel Java Banana ini memang nampak sepi karena bukan hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

 

“ Umumya wisatawan ramai berkunjung ke sini ya Sabtu dan Minggu atau hari libur seperti libur hari raya idul fitri kemarin,” uangkap pemilik itu lagi. Selain strawbery pengunjung juga dapat membeli produk pertanian yang banyak dijual dipinggir jalan seperti cabe Tengger yang menurut sebagian orang pedasnya minta ampun. Cabe hampir mirip paprika tapi lebih kecil ini dinilai memiliki tingkat pedas yang mengusik lidah meski tidak begitu banyak jumlah buahnya yang digunakan untuk sambal.

 

“ Wah iya, itu pedasnya minta ampun. Saya saja sempat kaget waktu merasakan pedasnya sambal dari cabe itu,’ kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabuapten Probolinggo Ir. H. Anung Widiarto, MM Tidak itu saja sayur sayuran seperti kentang, kol, dll pun bisa dengan mudah didapatkan sebagai oleh-oleh di kawasan ini. dipasar tradisional pun kebutuahn ini bisa didapatkan. Pasar yang luasnya hanya 5 x 25 meter ini menjual berbagai kebutuhan dapur dan pertanian masyarakat Tengger.

 

Suasana pagi yang santai dan udara yang sejuk juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat-lihat suasana pedesaan di Tengger. Kesibukan masyarakat begitu menjadi warna sebuah desa yang nampak asri dan nyaman untuk disinggahi. Bahkan para ibu rumah tangganya pun rela bekerja dan mengantri mendapatkan air bersih dan ke ladang demi membantu rumah tangga mereka. Nampak sebagai masyarakat yang kompak dan akrab. (her)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menilik Sisi Kehidupan Masyarakat Tengger

Rajin Gotong Royong, Agama Bukan Topik Untuk Diperdebatkan

 

Pesona Gunung Bromo mengundang decak kagum masyarakat dunia. Alamnya yang indah juga masyarakatnya yang ramah menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Beberapa bulan lalu mereka terpilih sebagai juara 1 dalam lomba gotong royong dan kerukunan masyarakat tingkat nasional tahun 2014.

 

Masyarakat Tengger nampaknya adalah pekerja tulen. Mereka lebih memilih bekerja ketimbang kongkow-kongkow di waktu siang bolong saat hari kerja. Ladang di daerah mereka hampir tidak ada  yang dibiarkan kosong menganggur terbengkalai dan tidak terawat. Hari-hari mereka diisi dengan kesibukan yang produktif.

 

Bahkan di desa ini tergolong banyak pekerjaan dari luar terutama tukan bangunan. Di itu karena desa ini sangat minim tukang bangunan atau pembuat rumah. Tidak jarang masyarakat mendatangkan dari luar kecamatan Sukapura untuk mengisi kekosongan tenaga tukan bangunan. Tidak itu saja, para pekerja di ladang pun juga banyak berdatangan dari luar kecamatan.

 

“ Sampean bisa lihat kalau pagi banyak mobil-mobil yang mengangkut orang dari luar untuk bekerja disini. Hampir tiap rumah memiliki landang atau kebun. Bahkan hewan piaraan seperti sapi dan kuda juga banyak yang punya,” ucap Supoyo SH MM salah seorang tokoh masyarakat yang kini melenggang di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Probolinggo.

 

Begitupun saat sedang menunggu masa panen, masyatakat Tengger lebih memilih berkecimpung di pariwisata baik sebagai tukang ojek ataupun apa adanya. “ Orang sini jarang yang mau nganggur apalagi sampai ngurusi dan usil dengan tetangga, ngumpi, dll mereka lebih memilih bekerja daripada ngurusi tetangga atau ngrumpi,” katanya. Bahkan meski siaran televisi sudah masuk di daerah ini, namun mereka tidak terpengaruh dengan adanya gaya hidup atau tingkah laku yang sering dipertontonkan oleh televisi. “ Mereka lebih takut kepada Tuhan, takut dikutuk,” terang Supoyo.

 

Menurut Supuyo, masyarkat di desa Ngadisari dan sekitarnya atau masyarakat Tengger umumnya merupakan masyarakat yang giat bekerja. Mereka tidak suka berpangku tangan menunggu datangnya hujan atau berkah tiba. Mereka juga termasuk masyarakat yang taat kepada pemukan agamanya atau para dukun pandita. Karena itu ketaatan masyarakat terhadap dukun pandita sangat kuat. Tak heran bila mereka akan melaksanakan suatu hajatan keluarga pun berkonsultasi terlebih dahulu kepada ketua adat atau sesepuh mereka.

 

“ Mereka biasa saling bantu, paling tidak, setidak punyapunyanya  orang sini bila punya hajat minimal persediaan untuk daginnya saja sekitar tiga kwintal, mereka banyak menyokong sesama saudara-saudaranya, guyub dan tidak ada iri hati satu sama lain” lanjut Supoyo.

 

Mengenai ketaannya kepada ketua adat atau dukung pandita sebagai salah satu penopang kerukunan pun tidak diragukan lagi. Mereka akan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh dukun pandita. Lebih-lebih bila hendak melaksanakan hajatan keluarga. Mereka tidak segan berkonsultasi kepada para pemangku adatnya ketika hendak melaksanakan hajatan.

 

Agama Bukan Topik Diperdebatkan

 

Masyarakat tengger tergolong tidak suka membicarakan persoalan yang tidak konstruktif. Setidaknya ini terbukti dari berbagai agama yang ada disini namun tetap bisa hidup berdampingan secara damai.  Disini ada tiga agama yang bermukim. Yakni Islam, Hindu dan Kristen. “Ketiga pemeluk agama ini saling menghormati dan mereka enggan menyinggung soal agama sebagai bahan pembicaraan yang diperdebatkan. Yang ada hanya satu baju. Yakni baju sebagai masyarakat Tengger,” ungkap Supoyo. “Karena itu tidak heran bila mereka rukun dan akrab saling bergotong royong dalam wadah orang Tengger,’tegas Supoyo.

 

Begitu juga dalam mendapatkan wisatawan, tidak ada yang saling rebutan apalagi berselisih dan bertengkar satu sama lain gara-gara rebutan wisatawan. Tidak seperti pada umumnya diperkotaan yang rebutan ojek. Mereka sangat toleran dan menghargai sesama pencari nafkah. Walhasil wisatawan pun jadi betah dan berdatangan. Ada banyak obyek wisata yang dapat dinikmati disamping pesona utama Gunung Bromo sebagai tujuan.

 

Masyarakat juga tergolong kreatif, mereka memanfaatkan lahan pekarangan mereka sebagai mata pencaharian yang dapat dijadikan pilihan bagi wisatawan untuk mendapatkan oleh-oleh. seperti kebun strawberry yang bisa didapatkan dengan mudah. Pengunjung tinggal terjun dan memilih sendiri buah strawberry yang ada diladang. Harganya pun cukup terjangkau bagi wisatawan. Hanya 50 ribu rupiah untuk satu kilo gramnya.

 

“ Maaf kebetulan saat ini tingga ini aja (sedikit) sisa hari raya lebaran kemarin, kemarin sempat membludak pembelinya,” terang pemilik kebun starawbery yang ada di desa Jetak ini. Lahan yang berada di sepanjang jalan masuk menuju kawasan wisata Bromo yang berdekatan dengan Hotel Java Banana ini memang nampak sepi karena bukan hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

 

“ Umumya wisatawan ramai berkunjung ke sini ya Sabtu dan Minggu atau hari libur seperti libur hari raya idul fitri kemarin,” uangkap pemilik itu lagi. Selain strawbery pengunjung juga dapat membeli produk pertanian yang banyak dijual dipinggir jalan seperti cabe Tengger yang menurut sebagian orang pedasnya minta ampun. Cabe hampir mirip paprika tapi lebih kecil ini dinilai memiliki tingkat pedas yang mengusik lidah meski tidak begitu banyak jumlah buahnya yang digunakan untuk sambal.

 

“ Wah iya, itu pedasnya minta ampun. Saya saja sempat kaget waktu merasakan pedasnya sambal dari cabe itu,’ kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabuapten Probolinggo Ir. H. Anung Widiarto, MM Tidak itu saja sayur sayuran seperti kentang, kol, dll pun bisa dengan mudah didapatkan sebagai oleh-oleh di kawasan ini. dipasar tradisional pun kebutuahn ini bisa didapatkan. Pasar yang luasnya hanya 5 x 25 meter ini menjual berbagai kebutuhan dapur dan pertanian masyarakat Tengger.

 

Suasana pagi yang santai dan udara yang sejuk juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat-lihat suasana pedesaan di Tengger. Kesibukan masyarakat begitu menjadi warna sebuah desa yang nampak asri dan nyaman untuk disinggahi. Bahkan para ibu rumah tangganya pun rela bekerja dan mengantri mendapatkan air bersih dan ke ladang demi membantu rumah tangga mereka. Nampak sebagai masyarakat yang kompak dan akrab. (her)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menilik Sisi Kehidupan Masyarakat Tengger

Rajin Gotong Royong, Agama Bukan Topik Untuk Diperdebatkan

 

Pesona Gunung Bromo mengundang decak kagum masyarakat dunia. Alamnya yang indah juga masyarakatnya yang ramah menambah daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Beberapa bulan lalu mereka terpilih sebagai juara 1 dalam lomba gotong royong dan kerukunan masyarakat tingkat nasional tahun 2014.

 

Masyarakat Tengger nampaknya adalah pekerja tulen. Mereka lebih memilih bekerja ketimbang kongkow-kongkow di waktu siang bolong saat hari kerja. Ladang di daerah mereka hampir tidak ada  yang dibiarkan kosong menganggur terbengkalai dan tidak terawat. Hari-hari mereka diisi dengan kesibukan yang produktif.

 

Bahkan di desa ini tergolong banyak pekerjaan dari luar terutama tukan bangunan. Di itu karena desa ini sangat minim tukang bangunan atau pembuat rumah. Tidak jarang masyarakat mendatangkan dari luar kecamatan Sukapura untuk mengisi kekosongan tenaga tukan bangunan. Tidak itu saja, para pekerja di ladang pun juga banyak berdatangan dari luar kecamatan.

 

“ Sampean bisa lihat kalau pagi banyak mobil-mobil yang mengangkut orang dari luar untuk bekerja disini. Hampir tiap rumah memiliki landang atau kebun. Bahkan hewan piaraan seperti sapi dan kuda juga banyak yang punya,” ucap Supoyo SH MM salah seorang tokoh masyarakat yang kini melenggang di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Probolinggo.

 

Begitupun saat sedang menunggu masa panen, masyatakat Tengger lebih memilih berkecimpung di pariwisata baik sebagai tukang ojek ataupun apa adanya. “ Orang sini jarang yang mau nganggur apalagi sampai ngurusi dan usil dengan tetangga, ngumpi, dll mereka lebih memilih bekerja daripada ngurusi tetangga atau ngrumpi,” katanya. Bahkan meski siaran televisi sudah masuk di daerah ini, namun mereka tidak terpengaruh dengan adanya gaya hidup atau tingkah laku yang sering dipertontonkan oleh televisi. “ Mereka lebih takut kepada Tuhan, takut dikutuk,” terang Supoyo.

 

Menurut Supuyo, masyarkat di desa Ngadisari dan sekitarnya atau masyarakat Tengger umumnya merupakan masyarakat yang giat bekerja. Mereka tidak suka berpangku tangan menunggu datangnya hujan atau berkah tiba. Mereka juga termasuk masyarakat yang taat kepada pemukan agamanya atau para dukun pandita. Karena itu ketaatan masyarakat terhadap dukun pandita sangat kuat. Tak heran bila mereka akan melaksanakan suatu hajatan keluarga pun berkonsultasi terlebih dahulu kepada ketua adat atau sesepuh mereka.

 

“ Mereka biasa saling bantu, paling tidak, setidak punyapunyanya  orang sini bila punya hajat minimal persediaan untuk daginnya saja sekitar tiga kwintal, mereka banyak menyokong sesama saudara-saudaranya, guyub dan tidak ada iri hati satu sama lain” lanjut Supoyo.

 

Mengenai ketaannya kepada ketua adat atau dukung pandita sebagai salah satu penopang kerukunan pun tidak diragukan lagi. Mereka akan selalu melaksanakan apa yang diperintahkan oleh dukun pandita. Lebih-lebih bila hendak melaksanakan hajatan keluarga. Mereka tidak segan berkonsultasi kepada para pemangku adatnya ketika hendak melaksanakan hajatan.

 

Agama Bukan Topik Diperdebatkan

 

Masyarakat tengger tergolong tidak suka membicarakan persoalan yang tidak konstruktif. Setidaknya ini terbukti dari berbagai agama yang ada disini namun tetap bisa hidup berdampingan secara damai.  Disini ada tiga agama yang bermukim. Yakni Islam, Hindu dan Kristen. “Ketiga pemeluk agama ini saling menghormati dan mereka enggan menyinggung soal agama sebagai bahan pembicaraan yang diperdebatkan. Yang ada hanya satu baju. Yakni baju sebagai masyarakat Tengger,” ungkap Supoyo. “Karena itu tidak heran bila mereka rukun dan akrab saling bergotong royong dalam wadah orang Tengger,’tegas Supoyo.

 

Begitu juga dalam mendapatkan wisatawan, tidak ada yang saling rebutan apalagi berselisih dan bertengkar satu sama lain gara-gara rebutan wisatawan. Tidak seperti pada umumnya diperkotaan yang rebutan ojek. Mereka sangat toleran dan menghargai sesama pencari nafkah. Walhasil wisatawan pun jadi betah dan berdatangan. Ada banyak obyek wisata yang dapat dinikmati disamping pesona utama Gunung Bromo sebagai tujuan.

 

Masyarakat juga tergolong kreatif, mereka memanfaatkan lahan pekarangan mereka sebagai mata pencaharian yang dapat dijadikan pilihan bagi wisatawan untuk mendapatkan oleh-oleh. seperti kebun strawberry yang bisa didapatkan dengan mudah. Pengunjung tinggal terjun dan memilih sendiri buah strawberry yang ada diladang. Harganya pun cukup terjangkau bagi wisatawan. Hanya 50 ribu rupiah untuk satu kilo gramnya.

 

“ Maaf kebetulan saat ini tingga ini aja (sedikit) sisa hari raya lebaran kemarin, kemarin sempat membludak pembelinya,” terang pemilik kebun starawbery yang ada di desa Jetak ini. Lahan yang berada di sepanjang jalan masuk menuju kawasan wisata Bromo yang berdekatan dengan Hotel Java Banana ini memang nampak sepi karena bukan hari libur seperti Sabtu dan Minggu.

 

“ Umumya wisatawan ramai berkunjung ke sini ya Sabtu dan Minggu atau hari libur seperti libur hari raya idul fitri kemarin,” uangkap pemilik itu lagi. Selain strawbery pengunjung juga dapat membeli produk pertanian yang banyak dijual dipinggir jalan seperti cabe Tengger yang menurut sebagian orang pedasnya minta ampun. Cabe hampir mirip paprika tapi lebih kecil ini dinilai memiliki tingkat pedas yang mengusik lidah meski tidak begitu banyak jumlah buahnya yang digunakan untuk sambal.

 

“ Wah iya, itu pedasnya minta ampun. Saya saja sempat kaget waktu merasakan pedasnya sambal dari cabe itu,’ kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabuapten Probolinggo Ir. H. Anung Widiarto, MM Tidak itu saja sayur sayuran seperti kentang, kol, dll pun bisa dengan mudah didapatkan sebagai oleh-oleh di kawasan ini. dipasar tradisional pun kebutuahn ini bisa didapatkan. Pasar yang luasnya hanya 5 x 25 meter ini menjual berbagai kebutuhan dapur dan pertanian masyarakat Tengger.

 

Suasana pagi yang santai dan udara yang sejuk juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat-lihat suasana pedesaan di Tengger. Kesibukan masyarakat begitu menjadi warna sebuah desa yang nampak asri dan nyaman untuk disinggahi. Bahkan para ibu rumah tangganya pun rela bekerja dan mengantri mendapatkan air bersih dan ke ladang demi membantu rumah tangga mereka. Nampak sebagai masyarakat yang kompak dan akrab. (her)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *