Menanti Kemurahan TNI

Stagnan dan bahkan mundur, itulah kata paling tepat untuk mengambarkan kondisi para pedagang kupang yang ada di kompleks TNI AL Tebel Kec. Gedangan ini. Makanan khas Sidoarjo ini sempat meraja di era 80 hingga 90-an.

Bahkan stannya yang bejajar di sepanjang jalan raya Gedangan atau yang kini diduduki markas marinir tersebut sempat ramai dikunjungi oleh banyak pelanggan. Alih-alih ingin menjadikan makanan khas Sidaorjo ini lebih tertata dan tertib di satu kawasan yang layak, tapi kini malah kurang mendapat perhatian.

Kini nasib mereka malah tidak lebih menguntungkan dibanding dulu. Imam Suwardi, Ketua Paguyuban pedangang menuturkan, kini pendapatan mereka malah tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Makanan khas Sidaorjo ini malah sepi, tidak seperti yang diharapkan. Hanya hari-hari terntu saja pedangang dapat bernafas lega karena pengunjung tiba melimpah.

Suwardi menuturkan, pengelolaan yang setengah hati menjadi kendalanya selama ini. Lokasinya yang strategis, nampak kumuh dengan timbunan sampah yang menggunung. Ia pun pernah mengajukan perbaikan melalui Disperindag setempat guna mendapatkan bantuan perbaikan. Mulai dari wajah depan, halaman, toiolet, dll. Namun hingga kini belum mendapat persetujuan hingga menjelang akhir masa kontraknya selama 25 tahun yang kini hanya tinggal 2 tahun. ” Sudah dua tahun lalu kami mengajukan perubahan atau pembenahan-pembenahan kepada pemerintah. Tapi blm ada tanggapan hingga pemimpinya kini berganti,” terang Imam.

Meski begitu ia bersyukur, karena pemerintah Sidoarjo sedikit membantu biaya sewa. Namun kelompok pedangan itu kembali terpukul lanataran di tahun 2014 ini subsidi itu dicabut. “ Memang kami selama ini dapat bantuan biaya stand dari pemkab, namun tahun ini bantuan itu tidak lagi dapat kami rasakan,” terang Imam Suwardi tak tahu sebab kenapa subsidi itu kini dihentikan. Kini pihanya hanya bisa pasrah. Sepinya pengunjung juga disebabkan oleh berbagai hal. Disamping pengelolaan yang kurang terorganisir, juga kekompakan antar pedangang yang masih susah didapatkan.

Kini pihaknya hanya bisa berharap pihak TNI AL yang memiliki lahan tetap bermurah hati memberi kesempatan lagi bagi para pedagang untuk meneruskan kontrak di tempat tersebut. ” Ya kami tidak bisaberbuat apa-apa hanya berharap mudah-mudahan pihak TNI AL yang memiliki lahan masih mau menyewakan lahannya. Karena menurut saya tidak ada lagi tempat yang cocok selain disini. Hanya saja memang perlu pembenahan disana-sini,” ungkap Suwardi. (jul)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *