Budidaya Lele Sistem Boster, Hasilkan Lele Berkualitas

Siapa yang tak kenal ikan lele. Ika ini identik dengan ikan monster yang sering memakan apa aja dan bahkan dari spesiesnya sendiri. Karena itu tak heran bila ada yang mengatakan ikan lele merupakan jenis ikan kotor.

Namun menurut Dedi salah seorang pembudidaya lele sistem boster, perlakuan yang khusus dalam pemeliharaan ikan lele dapat menjadikan ikan ini menjadi ikan yang sehat, bersih dan sangat baik untuk konsumsi. “Saya kira semua ikan kalau tidak ada yang dimakan ya bisa menyerang temannya, kambing di Tuban aja bisa makan akan asin kalau tidak ada makanan yang sewajarnya. Maka itu ikan lele bukan kanibal sebenarnya, tergantung peliharanya”, ungkap Dedi saat ditemui di tempat pembudidayaannya kawasan Gedangan Sidoarjo.

Dedi menjelaskan, yang menjadikan ikan lele terkesan kotor adalah cara pemeliharaannya yang kurang baik. Kotorannya tidak selalu dibersihkan yang mengakibatkan bau tidak sedap. Tapi dengan pemeliharaan yang baik dengan sistem boster yang selalu memperhatikan kualitas air dan pakan, ikan lele jadi sehat dan layak untuk dikonsumsi. “Bahkan saat ini ada pesanan sushi (makan ala jepang) yang langsung dihidangkan tapa dimasak”, ungkap Dedi.

Bila dibandingkan dengan pemeliharaan secara konvensional, ikan lele konvensional dagingnya cenderung lembek dan tidak bisa difilley (diambil dagingnya saja). Namun dengan pemeliharaan yang tepat, ikan lele dapat difilley atau diambil dagingnya saja layaknya gurami, dll karena pemeliharaan jenis ini didukung dengan suplemen tertentu sehingga dapat menjadikan ikan lele dapat tumbuh dengan baik dan tidak sampai kanibal.

Mengenai kualitas daging, telah memiliki sertifikat pengujian sehingga dipastikan daging yang dikonsumsi sangat layak dan aman. “Kami sudah lab-kan kualitas dagingnya. Dan hasilnya bisa dilihat sendiri. Sangat aman, tanpa mengandung bahan-bahan berbahaya”, lanjutnya.  Pemeliharaan dengan sistem ini juga menurutnya sangat hemat dibanding dengan konvensional. Karena dengan ukuran kolam 3×3 saja sudah bisa dijadikan budidaya atau pembesaran dengan hasil yang memuaskan. “Intinya kualitas air bisa selalu terjaga, bersih dan tidak berbau sehingga ikan yang dihasilkan akan sehat dan layak konsumsi dalam masa panen 2-3 bulanan”, terangnya. (luk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *