Heboh Penemuan Candi di Urangagung Sidoarjo

urangagungBeberapa hari terakhir, warga Desa Urangagung kecamatan Kota, Kabupaten Sidoarjo digemparkan dengan adanya temuan bangunan yang menyerupai candi yang terletak di areal persawahan milik warga.

Meski panas terik matahari menyengat, namun rupanya hal tersebut tak menyurutkan antusias warga untuk berbondong-bondong menuju lokasi penemuan candi ini. Pasalnya warga yakin kalau air yang keluar dari candi ini sangat berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit hingga enteng jodoh. Tak sedikit dari pengunjung yang membawa botol hingga galon. “Saya punya penyakit rematik sudah bertahun-tahun. Tapi baru dua hari ambil air disini dan langsung saya minum rasa rematik saya hilang. Rasa airnya enak, seger dan gak bau anyir kok,” ujar Sumini (53), warga.

 

Sugiantono (40), adalah penemu candi ini. Ia menemukan candi ini pada hari kamis (29/10) lalu. Kemarau berkepanjangan membuatnya risau dengan tanaman kacang hijau yang ditanamnya di area yang ia sewa dari tanah kas desa. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk membuat galian sumur tepat berada di tengah sawah. Namun baru  menggali sekitar 2 meter, ia menemukan sebuah balok batu bata. Batu bata merah itu berbentuk berbeda dari biasanya yakni dengan ukuran sekitar 25×10 cm dengan ketebalan 5 cm.

 

Kemudian ia lanjutkan menggali hingga ia menemukan dua pondasi bangunan semacam candi yang terpisah oleh genangan air yang kira-kira dalamnya mencapai pinggang orang dewasa. Sebelum menemukan bangunan seperti candi tersebut, dua hari sebelumnya tepatnya hari selasa, Sugiantono mengaku mendapatkan mimpi. Ia berada di sebuah lapangan. Di lapangan itu terdapat sebuah gerbang yang mirip Candi Wringin Lawang di Mojokerto. Ia bertemu orang berpakaian seperti zaman kerajaan dan memintanya membuka sebuah pintu. “Saya berhasil membuka gerbangnya. Lah kok taunya saya menemukan candi ini. Tapi sebelum mimpi membuka gerbang itu saya mimpi berendam di sendang,” jelasnya.

 

Kepala Desa Urangagung, Akhmad Haryadi mengatakan nantinya setiap hari minggu warga akan melakukan penggalian secara swadaya. Ia menyatakan sudah melaporkan temuan ini ke Balai Pelestarian Cagar Budaya atau BPCB Trowulan, namun masih belum ada tanggapan. “Pihak kelurahan dan kecamatan sudah setuju kalau warga melakukan penggalian asalkan tidak mengambil atau merubah bentuk dari bangunan tersebut,” jelasnya.

 

Haryadi khawatir akan menimbulkan banyak kemudhorotan seperti warga yang percaya dengan khasiat air yang ada di candi tersebut. Haryadi juga melarang warganya untuk memasang tarif kepada pengunjung. Warga bisa secara sukarela memberikan sumbangan. “Kami takutnya dengan adanya temuan ini malah jadi seperti Ponari,” ujarnya sembari terkekeh.

 

Sementara itu Ketua Kelompok Kerja Perlindungan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan Nugroho Harjo Lukito mengatakan penemuan susunan batu bata tersebut sama dengan saluran air bawah tanah yang ditemukan di Kecamatan Wates, Kediri, Jawa Timur.

 

Menurutnya, saluran air tertutup di bawah tanah sering ia jumpai saat melakukan ekskavasi peninggalan Kerajaan Kediri. Saluran air bawah tanah, kata dia, berfungsi untuk pembuangan air banjir ke sungai besar dan dibuat lurus memanjang. “Kalau saluran air peninggalan Kerajaan Majapahit itu kebanyakan di atas tanah,” ujar Nugroho. (dan)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *