Grebeg Suro 2014 : Dimeriahkan Berbagai Kegiatan Pendukung

Dinas Pariwisata Jatim Dukung Penuh

Jawa Timur merupakan propinsi di indonesia yang kaya akan budaya. Umumnya masyarakat menyebut budaya Jawa Timur ini dengan “budaya jawa timuran”. Reog Ponorogo  adalah satu dari sekian banyak budaya khas Jawa Timur. Saking terkenalnya, ketika negara tetangga Malaysia mencoba mengklaim kesenian yang satu ini, hampir seluruh masyarakat Indonesia menjadi geram. Kegeraman ini semakin menjadi setelah sebelumnya Malaysia mengklaim batik sebagai warisan budaya mereka.

Munculnya Reog Ponorogo

Banyak sekali cerita yang muncul seputar asal usul munculnya reog. Namun dari semua cerita yang beredar, yang paling terkenal adalah cerita mengenai pemberontakan Ki Ageng Kutu. Ki Ageng kutu merupakan seorang abbdi dari kerajaan pada masa Bhre Kertabumi, yang merupakan raja dari Majapahit yang terakhir dan berkuasa pada abad ke-15.

Ki ageng Kutu murka melihat tingkah laku raja yang terpengaruh oleh teman yang berasal dari negara China. Karena pengaruh kawannya yang sangat kuat tersebut Sang Raja menjadi melalaikan tugasnya sebagai kepala negara sehingga kerajaan menjadi sangat korup. Di lain pihak, Ki Ageng Kutu merasa bahwa kekuasaan kerajaan Majapahit akan segera berakhir.

Dengan berbekal tekad yang teguh akhirnya beliau meninggalkan sang raja dan mendirikan sebuah perguruan lalu mengajarkan seni beladiri, ilmu kekebalan diri dan ilmu kesempurnaan dengan harapan agar kaum muda dapat menjadi bibit yang berbobot dalam kebangkitan kembali kerajaan Majapahit kelak.

Sadar bahwa pasukannya terlalu kecil untuk melawan pasukan kerajaan maka pesan politis Ki Ageng Kutu disampaikan melalui pertunjukan seni Reog, yang merupakan “sindiran” kepada Raja Bhre Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat lokal menggunakan kepopuleran Reog.

Dalam pertunjukan Reog terdapat topeng Singo Barong  yang merupakan simbol dari raja Bhre Kertabumi yang di atasnya di tancapkan bulu – bulu burung Merak yang menyimbolkan kuatnya pengaruh para bala chinanya yang mengatur segala gerak dan tingkah lakunya.

Ternyata dibalik keindahan gerakan tari dan ornamennya tersimpan makna filosofis tentang perjuangan melawan raja yang korup. Sungguh kesenian Reog Ponorogo merupakan salah satu budaya warisan leluhur bangsa Indonesia yang tidak ternilai harganya.

Kini perhelatan reyog ponorogo (grebeg suro) itu bakal dilaksanakan pada tanggal 19  Oktober 2014 mendatang dengan berbagai atraksi dan acara-acara pendukung yang menarik. Seperti pameran foto grafi, pameran bonsai, semaan al-qur’an, pameran produk UKM dan Pariwisata, pameran pusaka, festival music, lomba keagamaan, lomba mocopat, lomba perkutut, pagelaran wayang kulit, pacu kuda, dll.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timmur Dra. Susariningsih, MM mengatakan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur mendukung penuh kegiatan tersebut dengan melakukan berbagai action. Seperti publikasi di beberapa media televisi dan cetak, talk show, travel manual, dan kalender wisata tahunan, dll.

“ Kami sangat mendukung kegiatan tersebut (grebeg suro) dengan melakukan action-action diantaranya adalah Bapak Kepala Dinas akan melakukan talk show di televisi, travel manual- travel manual yang selalu kita bagikan di berbagai kesemapatan, kalender tahunan pariwisata Jatim dan website,” terang Susariningsih.(her/bbs)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *