Dimana Anda Dapatkan Foto-Foto Walikota Surabaya dari Jaman Belanda Hingga Jepang? Disini Tempatnya

Grand Piano Selalu Menarik Perhatian Pengunjung

 

Semenjak dibuka dan diresmikan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, tempatnya pada 3 Mei 2015, Museum Surabaya telah berhasil menyedot banyak kunjungan wisatawan. “Memang kebanyakan wisatawan lokal. Hari biasa sekitar 150 pengunjung. Kalau hari liburan antara 600 sampai 700 orang,” ungkap Tour Guide Museum Surabaya, Reza Prasetya, kepada media ini.

Bahkan, lanjut Reza, jika berbarengan ada event di Jl Tunjungan maka tingkat kunjungan juga naik hingga 1.000 orang. Dan jika dirata-rata, wisatawan dalam kota 60 persen, 30 luar kota, serta 10 persen mancanegara. Museum Surabaya berada di Lantai Dasar Gedung SIOLA, sebuah gedung cagar budaya, yang berada di pojok jalan antara Jalan Genteng Kali (gedung bagian samping utara) dengan Jalan Tunjungan (gedung bagian depan atau barat), dan hanya berjarak beberapa ratus meter dari gedung bersejarah yakni Hotel Majapahit.

Sekitar 1.000 benda-benda yang memiliki nilai sejarah bagi Surabaya tempo dulu dipajang rapi di Museum Surabaya Gedung Cagar Budaya Siola ini. Ketika masuk di pintu utama museum, pengunjung akan disambut foto-foto wali kota Surabaya sejak zaman Belanda dan Jepang Tahun 1942-1945, hingga era Gestapu (G 30 S PKI). “Sejarah tak boleh bohong, semuanya saya pasang,” kata Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, menjelang peresmian museum, 3 tahun silam.

Reza menerangkan, ada benda bersejarah yang sampai sekarang terjaga sangat maksimal, yakni grand piano 1907. “Dulu grand piano ini berada di Balai Pemuda dimana dulu menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Eropa. Keistimewaan grand piano tetap dijaga betul dan berfungsi dengan baik. Turis asing kita ajak ke piano dan mencoba,” ujarnya.

Yang membedakan museum ini dengan museum lainnya di Surabaya, karena lebih banyak menceritakan perjalanan sejarah kota Surabaya. “Kalau museum Tugu Pahlawan menceritakan tentang perjuangan rakyat melawan penjajah, museum kesehatan juga beda yang ditampilkan,” tutur Reza.

Toni (19), salah satu pengunjung asli penduduk Surabaya, menilai museum ini sangat bermanfaat khususnya bagi generasi muda seperti dirinya. “Ini menunjukkan bahwa sejarah ini benar-benar ada,” ujarnya serius. Lain lagi penilaian Prayitno (46), domisili di Kembang Kuning Kulon Kota Surabaya, bahwa museum memang bagus tetapi masih ada benda-benda yang seharusnya ditampilkan. “Antara tahun 1980 hingga 1990 ada bis kota tingkat, nah alangkah bagusnya dipajang juga,” ujar Prayitno yang berkunjung bersama keluarga.

 

Sejarah Siola

Sejarah Gedung SIOLA sendiri berawal dari tahun 1877 ketika gedung itu untuk pertama kalinya dibangun oleh investor berkebangsaan Inggris bernama Robert Laidlaw (1856-1935), pemilik Whiteaway Laidlaw & Co., salah satu perusahaan ritel terbesar di dunia ketika itu (sekarang, kira-kira seperti Carreefour sekarang).

Di gedung yang baru dibangun itu ia membuka pusat perkulakan dengan nama: “Het Engelsche Warenhuis,” Toko Serba Ada Inggris. Masa jaya keluarga Whiteaway Laidlaw di bidang perdagangan berakhir pada 1935, saat pendirinya meninggal dunia. Bisnis ritelnya mengalami kebangkrutan, tetapi bisnis perbankannya tetap berjalan, dan masih ada sampai sekarang.

Saat Jepang masuk, Gedung tersebut diambil-alih oleh pengusaha dari Jepang, dan mengganti namanya menjadi Toko Chiyoda. Toko Chiyoda adalah toko kopor dan tas terbesar di Surabaya. Tas dan kopor Chiyoda sangat populer, sehingga banyak orang ikut-ikutan membuka toko tas dan kopor di sekitar toko itu.

Pengaruh Chiyoda masih ada sampai sekarang, yaitu di Jalan Gemblongan yang bersambungan lurus dengan Jalan Tunjungan, dan Jalan Praban yang simpangan dengan Jalan Tunjungan, masih ada toko-toko yang menjual tas dan koper. Masa jaya Chiyoda tak lama, setelah Jepang menyerah kalah kepada sekutu, Toko Chiyoda ditutup. Pemiliknya kembali ke Jepang. Gedung itu menjadi kosong.

Saat pecah perang 10 November 1945 antara rakyat Surabaya dengan pasukan sekutu, Gedung Chiyoda digunakan sebagai salah satu basis pertahanan rakyat Surabaya dari gempuran pasukan sekutu. Akibatnya gedung itu dijadikan sasaran tembakan tank-tank pasukan sekutu, sehingga membuatnya rusak berat dan terbakar.

Setelah perang melawan sekutu berakhir, gedung eks-Toko Chiyoda itu dibiarkan menjadi gedung rusak yang tak terurus sampai dengan 1950. Saat Presiden Soekarno melakukan nasionalisasi terhadap aset-aset pemerintahan kolonial, Pemerintah Kota Surabaya mengambil-alih gedung tersebut menjadi aset Pemkot Surabaya.

Pada 1960, lima orang pengusaha, yaitu Soemitro, Ing Wibisono, Ong, Liem dan Ong mengontrak gedung tersebut dari Pemkot Surabaya. Mereka memperbaiki dan merenovasi gedung tersebut dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya, lalu membuka pusat toko grosir di situ, yang diberi nama dari singkatan nama-nama mereka sendiri, yaitu SIOLA. Sejak itulah gedung itu dikenal masyarakat Surabaya dengan nama Gedung SIOLA, sampai sekarang.

SIOLA segera menjadi kebanggaan warga Surabaya di masa itu, menjadi semacam “mall” pertama di Surabaya, menjadi ikon kota Surabaya. Bahkan sampai sekarang pun ketika tulisan nama “SIOLA” sudah tidak ada lagi di gedung tersebut, masyarakat masih mengenal dan menyebutnya sebagai Gedung SIOLA.

SIOLA segera menjadi kebanggan warga Surabaya di masa itu, menjadi semacam “mall” pertama di Surabaya, menjadi ikon kota Surabaya. Bahkan sampai sekarang pun ketika tulisan nama “SIOLA” sudah tidak ada lagi di gedung tersebut, ia masih tetap disebut sebagai Gedung SIOLA.

Ketika harus bersaing dengan pusat-pusat perbelanjaan baru dan lebih moderen ketika itu, di antaranya adalah Pasar Atum, Pasar Turi, Delta Plaza (sekarang Surabaya Plaza) dan Tunjungan Plaza (saat itu baru ada Tunjungan Plaza 1, sekarang Tunjungan Plaza 5, dan sedang dibangun Tunjungan Plaza 6), SIOLA tak mampu lagi bersaing, akhirnya ia mengikuti jejak sejarah pengusaha-pengusaha pendahulunya, ditutup pada 1998.

Di masa-masa itu di Gedung SIOLA juga sempat dijadikan pusat perdagangan barang-barang elektronika, seperti televisi, kulkas, mesin cuci, dan lain-lain, dengan nama Tunjungan Center, semacam Glodok di Jakarta, tetapi akhirnya tutup juga.

Gedung SIOLA pun kembali mangkrak tanpa penghuni, sempat diupayakan dihidupkan lagi dengan menyewakannya ke swasta, yang membuka Ramayana-Siola Department Store (1999-2008), tetapi sepi pengunjung, ditutup, sempat mengubah nama SIOLA menjadi Tunjungan City dengan  rencana membuka Matahari Departement Store, tetapi batal, sempat menjadi pusat pedagangan buah-buahan, gagal, pusat penjualan mobil bekas, gagal juga, sampai akhirnya dikembalikan kepada Pemkot Surabaya. (*/tor)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *