Ulang Tahun Ke-4 Turonggo Asri Budoyo Ramaikan Desa Kalipecabean

Kesenian jaranan nampaknya masih menjadi daya tarik bagi masyarakat. Setidaknya itu bisa disaksikan dari pagelaran seni jaranan yang digelar di lapangan Desa Kali Pecabean Candi Sidoarjo Jum’at malam (4/1/2019).

Dalam pagelaran yang dibawakan oleh seni jaranan Turonggo Asri Budoyo itu nampak masyarakat yang berjubel memenuhi lapangan yang biasa digunakan untuk sepak bola itu. Meski bisa dikatakan masyarakat perkotaan, warga Candi dan sekitarnya pun masih suka dengan pertunjukan semacam ini.

Drs. Hery Mulyono (tengah) dan Sariman (dua dari kanan) pimpinan grup didampingi pemain jaranan sesaat seusai tampil

Seperti yang dikatakan Hartik, perempuan 34 tahun ini sedari magrib sudah berada di tempat berlangsungnya acara untuk menyaksikan pagelaran yang baru pertama kali dilakukan oleh Turonggo Asri Budi to itu di tempat ini. “Iya, mulai habis magrib, sudah ramai di sini, bahkan ata orang-orang udah ramai sejak sore”, terang Hartik.

Senada dengan Hartik, Ira (30) juga mengatakan hal serupa menurutnya ia menyukai kesenian atau pertunjukan apa aja tak terkecuali jaranan seperti sekarang ini. “Lumayan , saya juga suka, itung-itung hiburan gratis dan bisa rame-rame ngumpul ama temen-temen”, akunya yang datang dari Candi.

Seperti Diketahui Grup kesenian Jaranan Turonggo Asri Budoyo ini bermarkas di perum Kalipecabean Candi Sidoarjo yang pada kesempatan ini berulang tahun tepatnya sudah empat tahun eksis atau berdiri. Dituturkan oleh Drs. Heri Mulyono pembina kesenian ini mengatakan bahwa grup yang digawangi ini telah melalang buana ke berbagai daerah untuk unjuk kebolehan. Bahkan tak jarang juga di Sidoarjo sendiri. “Usia kami sudah empat tahun, kalo dihitung perform atau tanggapan ya sudah kemana-mana, Blitar, Sidoarjo , Mojokerto, Malang, Kediri, dll”, terang Heri disela acara.

Dan alhasil, penampilan grup jaranan ini memang nampak seru. Ada dagelan-dagelan yang bisa mengocok perut para penonton dan juga atraksi-atraksinya yang heboh. Bahkan pengunjung pun sangat membludak. Hasilnya pun para pedagang kaki lima kebanjiran rezeki dadakan yang tak disangka-sangka.

Seperti penjual alas/tikar untuk menonton acara ini yang dalam sekejap sudah mengumpulkan uang sebesar 300 ribu dengan harga per alas 5000 rupiah. Juga parkir kendaraan bermotor yang memenuhi tiga tempat parkir sekaligus yang memiliki luasan sehalaman balai desa Kalipecabean. (ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *