Berkunjung ke Gua Tabuhan? Siapa Takut

Gua tabuhan. Siapa yang tak mengenal gua ini. terletak di Dusun Tabuhan, Desa Wereng, Kecamatan Punung gua ini biasa dikenal dengan gua music. Karena gua ini dapat mendengungkan music ketika kita memukul-mukulkan tangan di dinding-dinding guanya.

 

Sesuai dengan namanya, Tabuhan berasal dari kata “tabuh” atau membunyikan alat musik ketika dipukul. Begitu tiba di area gua yang berada kurang lebih 40 km dari Pacitan ini, mulut gua akan langsung menarik perhatian Anda.

Lubang besar selebar 16 m di lereng kawasan karst ini dihiasi dengan puluhan stalaktit batu kapur berwarna putih. Stalaktit-stalaktit ini begitu kokoh, seperti gigi-gigi taring raksasa yang sedang menguap. Wih Sereee…m! Rongga gua luas dan lebar, dengan beberapa ceruk gelap di pojok-pojoknya. Meski sebuah jalur setapak bersemen sudah dibangun di dalam gua, namun Anda harus tetap berhati-hati dalam melangkah.

Beberapa stalaktit masih meneteskan air dan membuat licin di beberapa bagian. Gua ini termasuk salah satu situs peninggalan sejarah penting dan disinyalir sebagai salah satu gua hunian kering manusia purba. Hasil penelitian membuktikan bahwa gua ini telah dihuni manusia purba sejak 50 ribu tahun yang lalu.

Terdapat jejak bengkel alat batu dari masa 10 ribu tahun yang lalu, temuan moluska, dan bahkan fosil gigi manusia yang masih menempel pada dinding gua. Di bagian kanan terdapat beberapa bekas penggalian arkeologi yang dipagari. Sayangnya hasil-hasil penggalian tidak dipamerkan di sini.

Berjalan ke ujung belakang sebelah kanan gua, Anda akan menemukan jawaban atas hubungan antara gua dengan musik gamelan. Beberapa stalaktit dan stalagmit dengan ajaib bisa menghasilkan suara sesuai tangga nada apabila dipukul.

Susilo, juru kunci gua menceritakan bahwa gua ini ditemukan pertama kali oleh kakek buyutnya yang bernama Kyai Sontiko pada tahun 1822. Sebelumnya gua ini tidak diketahui keberadaannya oleh masyarakat setempat karena tertutup oleh rerimbunan pepohonan perdu dan rerumputan. Kyai Sontiko sendiri menemukannya secara tidak sengaja.

 

Kyai Sontiko memiliki lahan pertanian atau tegal yang terletak disekitar Gua ini. Disana pula setiap hari Kyai Sontiko menggembalakan ternak-ternaknya. Pada suatu musim kemarau yang panjang sapi-sapinya dilepas tak jauh dari sekitar lahannya tersebut. Namun beberapa sapi kemudian menerobos masuk ke dalam semak belukar itu. Rupanya mereka kehausan dan mencari air yang menetes. Dan disitulah rupanya terdapat gua atau stalagtit gua. Itulah perrtama kali Kyai Sontiko menemukan gua ini.

 

Awalnya gua ini bukan bernama Gua Tabuhan melainkan gua Tapan. Karena sejak pertama diketahui gua ini digunakan sebagai tempat bertapa. Hal ini erat kaitannya dengan sebuah cerita rakyat mengenai dua orang satria yang masing-masing memiliki kesaktian yang tinggi yaitu Sanggargeni dan Bambang Trigo. Kedua satria tersebut terlibat dalam perseteruan karena sama-sama merasa paling sakti. Untuk dapat membuktikan siapa yang paling sakti keduanya kemudian bertarung. Namun karena sama-sama sakti kedua satria tersebut akhirnya sama-sama meninggal.

 

Gua ini baru bernama Gua Tabuhan pada tahun 1936. yang merubah namanya adalah Kartodiprojo yang waktu itu menjabat sebagai Wedana Punung. Saat itu gua ini menjadi tempat persembunyian bagi para pencuri kuda di Punung. Dan ketahuan saat Wedana memerintahkan bawahannya untuk mengejar salah seorang pencuri kuda. Gua ini kemudian dipukul pada stalagtit dan stalagmitnya sehingga mengeluarkan bunyi yang mirip dengan suara gamelan dan bisa menjadi satu irama utuh jika ditabuh dengan beberapa orang.

 

Inilah yang menjadi salah satu keunikan gua ini. Namun tidak semua stalagit mampu mengeluarkan suara gamelan, Susilo kemudian menunjukkan sebuah stalagtit yang mampu mengeluarkan suara layaknya Kempul. Gua ini juga memliki nilai sejarah khususnya pada perang di tanah Jawa. Yaitu antara Pangeran Diponegoro dan VOC. Di ujung gua ini terdapat sebuah ceruk kecil seluas kurang lebih 2 meter persegi dengan tinggi hanya sekitar 1 meter. Menurut Susilo diceruk itulah tempat bertapa Sentot Prawirodirjo salah satu pengikut Pangeran Diponegoro.

 

Ketika perang Diponegoro meletus, Pacitan diketahui sebagai salah satu basis perlawanan pengikut Pangeran Diponegoro. Sosok yang berpengaruh dibalik keberpihakan rakyat Pacitan terhadap Pangeran Diponegoro adalah Raden Banteng Wareng. Dia adalah keturunan Sultan Yogya pertama. Kini masyarakat biasa membuktikan bunyi-buntyian itu melalui seorang seniman yang biasa memainkan stalagmit dan stalagtit di tempat itu dengan upah yang disepakati sebelumnya. Anda mau coba? (dan/bbs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *