PG Candi Baru, Target Produksi Naik, Siap Dukung Swasembada Gula dan Energi Nasional
foto : Direktur PG Candi Baru, Arief Nur Susanto (sebelah kanan) saat acara buka giling di PG Candi Sidoarjo
Sidoarjo – Dalam rangka mendukung swasembada gula nasional, Pabrik Gula (PG) Candi Baru Sidoarjo mentargetkan produksi tahun 2026 mencapai 35.000 ton gula.
Target tersebut meningkat sekitar 5.000 ton dibandingkan capaian produksi tahun sebelumnya, di angka 30.000 ton gula.
“Kami mentargetkan total produksi gula tahun ini sebesar 35.000 ton dengan menggiling 4.800.000 kuintal tebu. Target produksi tersebut naik 5.000 ton gula dibandingkan tahun 2025,” ungkap Direktur PG Candi Baru, Arief Nur Susanto, di sela-sela acara pagelaran wayang kulit dalam rangka selamatan buka giling, Sabtu malam (4/4/2026).
Arief berharap cuaca dalam waktu dekat bisa mendukung terlaksananya produksi gula. Sehingga musim giling tebu secepatnya segera dimulai.
“Sesuai prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemarau tegas diperkirakan terjadi pada bulan Mei. Namun demikian jika penghujung April, iklim benar-benar mendukung kita bisa langsung mulai produksi,” beber Arief.
Iklim kering tegas, menjadi salah satu faktor dalam memberikan dampak bagi prosentase rendemen tebu agar sesuai yang diinginkan. Selain itu, dukungan pasokan tebu dari para petani juga sangat menentukan tercapainya target produksi.gula.
“PG Candi Baru mendapatkan pasokan bahan baku tebu dari mitra para petani asal Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, dan juga ada beberapa diantaranya dari Mojokerto, malang, Probolinggo hingga Lumajang,” kata Arief.
Terkait Kemitraan dengan petani agar kualitas produksi meningkat, PG Candi Baru menyediakan bibit tebu Varietas unggul. Disamping itu, pihaknya juga menyediakan sarana Produksi pertanian.
“Khusus untuk bibit tebu varietas unggul, kami siapkan dan itu bisa digunakan oleh petani. Sementara bibit-bibit lainnya petani biasanya pengadaan sendiri menyesuaikan kondisi lahan yang akan ditanami. Karena setiap daerah, karakteristik lahannya berbeda-beda,” jelasnya.
Terkait skala prioritas program kerja tahun 2026, lanjut Arief, PG Candi Baru mempersiapkan beberapa pembenahan pabrik beserta infrastruktur pendukungnya dengan nilai investasi hampir Rp 16 miliar.
“Investasi tersebut untuk meyakinkan bahwa pabrik kami bisa beroperasi dengan lancar sesuai dengan harapan ketua APTRI (Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia)”.
“Selain itu di lahan pertanian kami juga melakukan berbagai macam perbaikan budidaya terutama perbaikan di bagian pematusan/irigasi dengan bekerjasama dengan dinas PU (pekerjaan umum).
“Karena di Sidoarjo merupakan daerah delta karena kalau tanaman tebu banyak yang tergenang air otomatis kandungan rendemen pada tanaman Tebu menjadi Rendah,” tegasnya.
Arief menyampaikan PG Candi Baru menjadi salah satu pabrik penyokong ketersediaan gula nasional. Selain produksi dinikmati konsumen sekitar pulau Jawa juga dikirim ke wilayah Indonesia timur.
“Jawa Timur ini menjadi lumbungnya pabrik gula di Indonesia. Sekitar 60 persen produksi gula nasional dihasilkan dari Jawa Timur. Sehingga secara kecukupan produksi gula di Jatim melimpah.
Hasil produksinya tidak hanya diedarkan di sekitar pulau Jawa, namun juga dikirim hingga Bali dan Papua,” tuturnya bangga.
Di samping mendukung kemandirian gula nasional, PG Candi Baru juga menyatakan kesiapan mensukseskan rencana pemerintah dalam menyediakan energi alternatif bioetanol pengganti bahan bakar fosil.
“Molase atau tetes tebu memang diharapkan bisa menjadi sumber energi alternatif, apalagi ditengah suhu geopolitik yang memanas di timur tengah. Harga minyak bumi semakin tinggi. Jadi sesuai arahan dari Pak Presiden Prabowo Subianto, tahun ini targetnya ada produksi 1,4 juta kilo liter bioetanol yang berasal dari tetes tebu,” jelasnya.
Guna mewujudkan hal itu, Arief menyebut ada beberapa pabrik produksi bioetanol yang akan dibangun pemerintah di Jawa Timur. Rencana program tersebut saat ini masih dalam pembahasan.
“Rencananya memang akan dibangun pabrik di Jawa Timur untuk produksi Bioetanol. Namun demikian, Kami juga belum menghitung secara detail dari produksi 30.000 ton gula berapa jumlah molase yang dihasilkan untuk diolah menjadi bioetanol.
Sementara produksi tetes tebu di kami saat ini baru 20.000 ton. Sedangkan untuk menghasilkan 1 liter bioetanol dibutuhkan 4 kilo tetes tebu,” tutupnya. (her)
