Nyadran Dewi Sekar Dadu, Tradisi Warga Pesisir Sidoarjo Makin Semarak, Sewa Sound System Rp 30 Juta Per Rombongan
Sidoarjo – Ribuan warga dan pengguna jalan memadati jembatan Kalipecabean, Kecamatan Candi menyambut rombongan perahu dan sound system yang disewa dengan harga rata-rata Rp 25 juta sampai Rp 30 juta, Minggu (16/02/2025) petang.
Begitulah warga pesisir Kota Delta menamakan tradisi turun temurun bagi warga Desa Balongdowo, Klurak, Kalipecabean dan Desa Kedungpeluk, Kecamatan Candi, Sidoarjo dan sekitarnya.
Tradisi yang kerap dilaksanakan setiap menjelang Ramadhan ini dimulai dari Jembatan Sungai Desa Balongdowo, Kecamatan Candi hingga Makam Dewi Sekar Dadu yang ada di Dusun Kepetingan, Desa Sawohan, Kecamatan Buduran, Sidoarjo.
Dalam ritual nyadran ini, sudah dikenal sebagai tradisi leluhur ini yang dilakukan untuk memohon keselamatan serta ruwah (tasyakuran) hasil melaut yang melimpah.
Sebelum prosesi Nyadran, ratusan warga yang mayoritas para ibu dan para pemuda ini, menggelar arak-arakan tumpeng.
Setelah itu, tumpeng dinaikkan ke perahu dan dibawa ke Makam Dewi Sekar Dadu di Dusun Kepentingan menggunakan transportasi air berupa puluhan perahu yang kerap digunakan warga pesisir Sidoarjo mensyukuri hasil melaut mereka.
Selain arak-arakan tumpeng, dalam acara itu, para pemuda desa juga turut serta dengan menyewa perahu yang dilengkapi sound system.
Bahkan, mereka rela mengeluarkan dana hingga puluhan juta rupiah untuk menyewa perahu serta kelengkapan sound system yang didatangkan dari luar Kota Sidoarjo.
“Bagi warga Balongdowo, untuk memeriahkan dan melestarikan tradisi leluhur Desa Balongdowo berupa nyadran ini, kami (para pemuda) tidak perhitungan.
Kami rela menghabiskan uang puluhan juta rupiah. Karena tradisi ini rutin digelar setiap tahun setiap Bulan Ruwah atau menjelang Ramadhan,” ujar salah seorang pemuda warga Desa Balongdowo, Kecamatan Candi.
Ia mengaku banyak warga yang rela menghabiskan uang sekitar Rp 30 juta untuk menyewa perahu dan sound system. Biaya itu, ditanggung bersama para peserta dengan cara menabung setiap bulan sejak Idul Fitri.
“Khusus untuk biaya sewa perahu dan sound system ditanggung semua peserta. Setiap pemuda menabung selama setahun untuk memeriahkan acara tradisional turun temurun nenek moyang kami ini,” paparnya.
Hal serupa disampaikan Joko Samudra. Pemuda berusia 30 tahun ini menguraikan sebagai generasi muda, ia dan teman-temannya bakal terus melestarikan budaya peninggalan leluhur ini. Alasannya, karena Nyadran ini termasuk tradisi untuk mengunjungi Makam Dewi Sekar Dadu.
“Khusus kami sendiri bersama rombongan melibatkan 20 pemuda. Untuk biaya sewa sound system dari Probolinggo ini biayanya sebesar Rp 30 juta. Sedangkan sewa perahu dan kelengkapan lainnya sekitar Rp 15 juta. Jadi total khusus rombongan kami menghabiskan anggaran sekitar Rp 45 jutaan,” tegasnya.
Salah seorang tokoh masyarakat setempat, Arifin menegaskan Nyadran ke Makam Dewi Sekar Dadu menjadi tradisi warisan leluhur yang telah berlangsung sejak lama. Bagi pria berusia 41 tahun ini, sejak kecil dirinya sudah melihat tradisi ini digelar setiap tahun di bulan Sya’ban (Ruwah).
“Nah, berdasarkan cerita nenek moyang, Nyadran bertujuan agar para nelayan mendapat keselamatan dan hasil tangkapan dari laut bisa melimpah,” papar Arifin.
Sementara Kapolsek Candi, Kompol Eka Anggriana menilai pihaknya bekerja sama dengan anggota Samapta Polresta Sidoarjo, TNI, Satpol PP dan elemen masyarakat lainnya untuk mengamankan jalannya ritual Nyadran yang menjadi tradisi tahunan ini.
Menurutnya, ratusan petugas gabungan dikerahkan untuk memastikan keamanan selama prosesi Nyadran di Makam Dewi Sekar Dadu.
“Kami menilai pelaksanaan tradisi ini berlangsung aman dan kondusif. Alhamdulillah, pelaksanaan tradisi leluhur ini berjalan aman dan kondusif,” tandasnya. (her)