Masih Banyak Yang Kesulitan Ekspor, IKM Sidoarjo Dibantu Kadin dan Disperindag

Dari pengalaman Disperindag, ketika melakukan pendampingan, masih ada pelaku usaha yang kurang serius, tidak mengikuti setiap materi pelatihan hingga tuntas. “Kalau cuma ikut dua hari terus nggak datang lagi ya kami anggap nggak niat, kami hanya dampingi yang serius saja,” ucap Listyaningsih.

Menurutnya, produk olahan masih jadi andalan ekspor Sidoarjo, terutama makanan, minuman, dan olahan ikan. Produk fashion seperti sepatu dan pakaian juga ada, tapi jumlahnya belum signifikan. Di sisi lain, masih banyak pelaku UMKM yang belum terpantau aktivitas ekspornya karena tidak melapor ke dinas.

Ada juga yang mengekspor lewat pihak ketiga atau marketplace online sehingga sulit dimonitor. “Yang ekspor tapi nggak atas nama sendiri itu juga nggak terdata, misalnya yang di Tangulangin, mereka ekspor lewat online,” jelasnya.

Tantangan lain bagi UMKM adalah menyesuaikan kualitas produk dengan permintaan pasar luar negeri. Kadang, meski sudah ada buyer, sampel produk masih bisa ditolak karena masalah rasa atau kemasan.

“Buyer biasanya minta perbaikan kalau ada yang kurang, nah dari situ pelaku usaha harus siap terus berbenah,” pungkasnya. Namun meski begitu, para pelaku UKM pun bisa mencoba untuk ekspor secara mandiri atau mencoba sendiri.

Ekspor Secara Mandiri
Banyak trainer atau mentor yang bisa membantu. Seperti kelas-kelas ekspor yang diberikan oleh pihak swasta dan berbayar. Untuk memulai ekspor secara mandiri, pelaku UKM bisa mencoba ekspor sendiri dengan kapasitas kecil. Ini biasanya dibawah 30 kilo gram. Pelaku usaha juga bisa memulai dengan menjual barang atau prosuknya di market place luar negeri, seperti amazon.com, dll.

Menurut Hari Wibisono dari UMKM Go Ekspor mengatakan, untuk ekspor seukuran kapasitas ini syaratnya sangat mudah. Tidak dieperlukan syarat macam-macam. Hanya saja pelaku usaha harus memiliki setidaknya media sosial atau website untuk mengenalkan dan menjelaskan produk mereka.

Setelah memiliki website barulah dimulai untuk mencari buyer. Untuk ini pun saat ini sangat mudah dilakukan. Pelaku UKM bisa mencarinya di medsos seperti instagram dll. Ataupun panduan mencari buyer yang banyak berseliweran di medsos seperti instagram. Semisal @ukm_eksporter_indonesia, dll.

“Kalau ekspor kapasitas kecilkan kan seperti kita mengirim barang ke sanak saudara saja. Tidak ada syarat-syarat macam-macam. Dan legitnya, pembayaran bisa dilakukan di depan atau minta uang muka”, terang Hari yang baru-baru ini memberikan pembekalan di Hotel Fave Siodarjo.

Setelah mendapat buyer atau memiliki pembeli, baru bisa menaikkan kapasitasnya. Untuk ekspor jumlah kecil, soal kemasan, kualiti kontrol, dll bisa dilakukan dengan video call. Dengan syarat utama harus bisa berbahasa asing atau bahasa inggris”, lanjut Hari. (her)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *